ASKEP BRONKHITIS KRONIS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BRONKHITIS KRONIS

 

BAB II

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Definisi

            Bronkhitis akut adalah radang pada bronkhus yang biasanya mengenai trakheadan laring, sehingga sering dinamai juga dengan laringotracheobronchitis. Radang inidapat timbul sebagai kelainan jalan napas tersendiri atau sebagai bagian dari penyakitsistemik misalnya pada morbili, pertusis, ditteri, dan tipus abdominalis.Istilah bronkhitis kronis menunjukkan kelainan pada bronkhus yang sifatnyamenahun (berlangsung lama) dan disebabkan oleh berbagai faktor, meliputi faktor yangberasal dari luar bronkhus maupun dari bronkhus itu sendiri. Bronkhitis kronismerupakan keadaan yang berkaitan dengan produksi mukus trakheobronkhial yangberlebihan, sehingga menimbulkan batuk yang terjadi paling sedikit selama tiga bulandalam waktu satu tahun untuk lebih dari dua tahun secara berturut-turut.Bronkhitis kronis bukanlah merupakan bentuk menahun dari bronkhitis akut.Walaupun demikian, seiring dengan waktu, dapat ditemukan periode akut pada penyakitbronkhitis kronis. Hal tersebut menunjukkan adanya serangan bakteri pada dindingbronkhus yang tidak normal, infeksi sekunder oleh bakteri dapat menimbulkankerusakan yang lebih banyak sehingga akan memperburuk keadaan.

  1. B.     Etiologi

Terdapat tiga jenis penyebab bronkhitis akut, yaitu:

a)      Infeksi: Staphylococcus (stafilokokus), Streptococcus (streptokokus),Pneumococcus (pneumokokus), Haemophilus influenzae.

b)      Alergi

c)      Rangsangan lingkungan, misal: asap pabrik, asap mobil, asap rokok, dll.Bronkhitis kronis dapat merupakan komplikasi kelainan patologik pada beberapa alattubuh, yaitu:

  • Penyakit jantung menahun, yang disebabkan oleh kelainan patologik pada katupmaupun miokardia. Kongesti menahun pada dinding bronkhus melemahkan dayatahan sehingga infeksi bakteri mudah terjadi.
  • Infeksi sinus paranasalis dan rongga mulut, area infeksi merupakan cumberbakteri yang dapat menyerang dinding bronkhus.
  • Dilatasi bronkhus (bronkInektasi), menyebabkan gangguan susunan dan fungsidinding bronkhus sehingga infeksi bakteri mudah terjadi 
  • Rokok dapat menimbulkan kelumpuhan bulu getar selaput lendir bronkhussehingga drainase lendir terganggu. Kumpulan lendir tersebut merupakan mediayang baik untuk pertumbuhan bakteri.

 

 

 

 

  1. C.    Manifestasi Klinis

            Bronkitis kronis merupakan penyakit menahun terjadi sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Pasien dengan bronkitis kronis dominan mempunyai riwayat batuk dengan sputum yang produktif yang biasanya disebabkan oleh kebiasaan merokok, keluhan utama adalah batuk berdahak dan dispnea, timbul batuk produktif, sputum kental dan mungkin juga purulen terutama bila terinfeksi oleh haemophilus influenza. Pada tingkat permulaan didapatkan adanya dispnea yang sesaat pada sebagian pasien sesak menyebabkab tidur pasien menjadi terganggu.
            Dispnea semakin lama semakin berat dan sehari penuh, terutama pada musim dingin dimana udara dingin dan berkabut. Selanjutnya sesak napas terjadi bila bergerak sedikit saja dan lama kelamaan dapat terjadi sesak napas yang berat, sekalipun pada keaadan istirahat. Bila timbul infeksi sesak napas akan bertambah, kadang-kadang disertai payah jantung kanan dan lama kelamaan timbul kor pulmonal yang menyebabkan kegagalan napas.

  1. D.     Anatomi dan Fungsi Bronkus

                Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira vertebrata torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan trachea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan kesamping ke arah tampuk paru. Bronckus kanan lebih pendek dan lebih lebar, dan lebih vertikal dari pada yang kiri, sedikit lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang utama lewat di bawah arteri, disebut bronckus lobus bawah. Bronkus kiri lebih panjang dan lebihlangsing dari yang kanan, dan berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelurn di belah menjadi beberapa cabang yang berjalan ke lobus atas dan bawah.Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronchus lobaris dan kernudian menjadi lobus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronchus yang ukurannya semakin kecil, sampai akhirnya menjadi bronkhiolus terminalis, yaitu saluranudara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara). Bronkhiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih I mm. Bronkhiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkbiolus terminalis disebut saluran  penghantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru-paru.

  1. E.           Patofisiologi

             Serangan bronkhitis akut dapat timbul dalam serangan tunggal atau dapat timbulkembali sebagai eksaserbasi akut dari bronkhitis kronis. Pada umumnya, virus merupakan awal dari serangan bronkhitis akut pada infeksi saluran napas bagian atas. Dokter akanmendiagnosis bronkhitis kronis jika pasien mengalami batuk atau mengalami produksi sputum selama kurang lebih tiga bulan dalam satu tahun atau paling sedikit dalam dua tahun berturut-turut.Serangan bronkhitis disebabkan karena tubuh terpapar agen infeksi maupun noninfeksi (terutama rokok). Iritan (zat yang menyebabkan iritasi) akan menyebabkan timbulnya respons inflamasi yang akan menyebabkan vasodilatasi, kongesti, edema mukosa,dan bronkospasme. Tidak seperti emfisema, bronkhitis lebih memengaruhi jalan napas kecildan besar dibandingkan alveoli. Dalam keadaan bronkhitis, aliran udara masih memungkinkan tidak mengalami hambatan.Pasien dengan bronkhitis kronis akan mengalami:

  • Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronkhus besar sehingga meningkatkan produksi mukus.
  • Mukus lebih kental.

                Kerusakan fungsi siliari yang dapat menunjukkan mekanisme pembersihan mukus.Pada keadaan normal, paru-paru memiliki kemampuan yang disebut mucocilliarydefence, yaitu sistem penjagaan paru-paru yang dilakukan oleh mukus dan siliari. Pada pasien dengan bronkhitis akut, sistem mucocilliary defence paru-paru mengalami kerusakan sehingga lebih mudah terserang infeksi. Ketika infeksi timbul, kelenjar mukus akan menjadi hipertropi dan hiperplasia (ukuran membesar dan jumlah bertambah) sehingga produksi mukus akan meningkat. infeksi juga menyebabkan dinding bronkhial meradang, menebal(sering kali sampai dua kali ketebalan normal), dan mengeluarkan mukus kental. Adanya mukus kental dari dinding bronkhial dan mukus yang dihasilkan kelenjar mukus dalam jumlah banyak akan menghambat beberapa aliran udara kecil dan mempersempit saluranudara besar. Bronkhitis kronis mula-mula hanya memengaruhi bronkhus besar, namun lambat laun akan memengaruhi seluruh saluran napas.Mukus yang kental dan pembesaran bronkhus akan mengobstruksi jalan napasterutama selama ekspirasi. Jalan napas selanjutnya mengalami kolaps dan udara terperangkap pada bagian distal dari paru-paru.

                Obstruksi ini menyebabkan penurunan ventilasi alveolus, hipoksia, dan asidosis. Pasien mengalami kekurangan O2, jaringan dan ratio ventilasi perfusi abnormal timbul, di mana terjadi penurunan PO2 Kerusakan ventilasi juga dapat meningkatkan nilai PCO,sehingga pasien terlihat sianosis. Sebagai kompensasidari hipoksemia, maka terjadi polisitemia (produksi eritrosit berlebihan).Pada saat penyakit bertambah parah, sering ditemukan produksi sejumlah sputumyang hitam, biasanya karena infeksi pulmonari. Selama infeksi, pasien mengalami reduksipada FEV dengan peningkatan pada RV dan FRC. Jika masalah tersebut tidak ditanggulangi,hipoksemia akan timbul yang akhirnya menuiu penyakit cor pulmonal dan CHF (CongestiveHeart Failure).

  1. F.     Penatalasanaan
    1. Batuk Efektif dan Napas Dalam

Batuk efektif adalah tindakan yang diperlukan untuk membersihkan sekret. Tujuan napas dalam dan batuk adalah untuk meningkatkan ekspansi paru, mobilisasi sekresi, dan mencegah efek samping dari retensi sekresi. Pasien diberi posisi duduk tegak pada tepi tempat tidur atau kursi dengan kaki disokong. Pasien dianjurkan untuk mengambil napas dalam dan perlahan. Bila sekret terauskultasi, kemudian batuk dimulai pada inspirasi maksimum.

  1. Fisioterapi Dada
  2. Fisioterapi dada terdiri dari drainase postural, perkusi dada, dan vibrasi dada. Biasanya ketiga metode digunakan pada posisi drainase paru yang berbeda diikuti dengan napas dalam dan batuk.
  3. Terapi Aerosol Bronkodilator
  4. Tujuan terapi ini adalah untuk merelaksasi jalan napas, mobilisasi sekresi, dan menrunkan edma mukosa, sehingga lebih banyak oksigen didistribusikan ke seluruh bagian paru, ventilasi alveolar diperbaiki.
  5. I.       Pemeriksaan Penunjang
  • Pemeriksaan radiologis
  • Foto dada
  • Pemeriksaan fungsi paru
    • Analisa Gas Darah (GDO)
    • Pemeriksaan EKG

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN BRONKHITIS KRONIK

  1. A.    Pengkajian
    1. 1.      Identitas Klien

Nama : Tn. R

Umur : 40 tahun

Jenis kelamin : Laki–laki

Agama : Islam

Pekerjaan : Wiraswasta

Pendidikan : STM

Alamat : Jl. Mawar No. 5

Tgl. Masuk RS : 24 November 2010

  1. 2.      Keluhan Utama :

Sesak napas, batuk disertai pengeluaran sekret

  1. 3.      Riwayat penyakit klien

Klien mengalami batuk disertai pengeluaran sekret 2 minggu yang lalu. Kemudianklien pergi berobat ke puskesmas terdekat dan diberi obat batuk oleh pak Mantridank klien merasa batuknya berhenti setelah mengkonsumsi obat tersebut. Padatanggal 24 November 2010 klien batuk terus – menerus disertai pengeluaran secretdan merasa sesak kemudian keluarga membawa klien ke UGD RS Labuang Bajiuntuk mendapatkan perawatan.

  1. 4.      Riwayat Kesehatan Masa Lalu

Saat kecil klien tidak pernah mengalami penyakit akut maupun kronis, kecualidemam, flu dan batuk – batuk ringan. Klien merupakan perokok berat dan bisamenghabiskan 2 bungkus/hari.

  1. 5.      Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System )

Pemeriksaan fisik pada klien dengan sinusitis meliputi pemeriksaan fisik umum per system dari observasi keadaan umum, pemeriksaan tanda-tanda vital,

  • Rambut dan hygiene kepala

rambut pasien hitam tidak berbau,keadaan rambut pasien tumbuh subur, dan kulit kepala pasien bersih tidak berketombe.

  • mata (kanan / kiri)

posisi mata pasien simetris,konjungtiva pasien anemis dan sklera pasien berwarna putih.

  • Penciuman (hidung) : tidak gangguan

 

 

 

  • Mulut dan tenggorokan

a)      Nafsu makan : anoreksi disertai mual muntah

b)      BB : menurun

c)      Porsi makan : tidak habis

d)      Mulut : bersih

e)      Mukosa : lembab

  • Telinga

a)      Pendengaran (telinga) : tidak ada gangguan

b)      Kesadaran: gelisah

c)      Reflek: normal

  • Dada / thorax

a)      Bentuk dada : barrel chest

b)      Pola nafas : tidak teratur

c)      Suara napas : ronchi pada waktu inspirasi dan ekspirasi disertai bising mengi

d)      Batuk : ya, ada sekret

e)      Retraksi otot bantu napas : ada

f)        Alat bantu pernapasan : O2 masker 6 lpm

  • Jantung

a)      Irama jantung : tidak beraturan

b)      Nyeri dada : ada, skala 6

c)      Akral : lembab

d)      Tekanan darah: 140/90 mmHg

  • Perkemihan

a)      Kebersihan : bersih

b)      Bentuk alat kelamin : normal

c)      Uretra : normal

d)      Produksi urin: normal

  1. B.     Diagnosa Keperawatan

Kemungkinan Diagnosa keperawatan yang muncul adalah :

  • Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret.
  • Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronchus.
  • Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan broncokontriksi, mukus.
  • Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dispnoe, anoreksia, mual muntah.
  • Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan menetapnya sekret, proses penyakit kronis.

 

  1. C.    Intervensi
  • Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret.

Tujuan : 

Mempertahankan jalan nafas paten.   

Rencana Tindakan:       

ü  Auskultasi bunyi nafas  

Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat dimanifestasikan dengan adanya bunyi nafas.

ü  Kaji/pantau frekuensi pernafasan.       

Rasional : Tachipnoe biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan selama / adanya proses infeksi akut.       

ü  Dorong/bantu latihan nafas abdomen atau bibir        

Rasional : Memberikan cara untuk mengatasi dan mengontrol dispoe dan menurunkan jebakan udara.

  • Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronchus.  

Tujuan : 

Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan yang adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan.

Rencana Tindakan:       

ü  Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan.

Rasional : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernafasan dan kronisnya proses penyakit

ü  Tinggikan kepala tempat tidur, dorong nafas dalam.  

Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan nafas untuk menurunkan kolaps jalan nafas, dispenea dan kerja nafas.

ü  Auskultasi bunyi nafas. 

Rasional : Bunyi nafas makin redup karena penurunan aliran udara atau area konsolidasi

ü  Awasi tanda vital dan irama jantung   

Rasional : Takikardia, disritmia dan perubahan tekanan darah dapat menunjukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung

  • Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan broncokontriksi, mukus.

Tujuan :

perbaikan dalam pola nafas.  

Rencana Tindakan: 

ü  Ajarkan pasien pernafasan diafragmatik dan pernafasan bibir

Rasional : Membantu pasien memperpanjang waktu ekspirasi. Dengan teknik ini pasien akan bernafas lebih efisien dan efektif.

ü  Berikan dorongan untuk menyelingi aktivitas dan periode istirahat   

Rasional : memungkinkan pasien untuk melakukan aktivitas tanpa distres berlebihan.

ü  Berikan dorongan penggunaan pelatihan otot-otot pernafasan jika diharuskan

Rasional : menguatkan dan mengkondisikan otot-otot pernafasan.      

  • Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dispnoe, anoreksia, mual muntah.

Tujuan : 

Menunjukkan peningkatan berat badan.

Rencana Tindakan:

ü  Kaji kebiasaan diet.       

Rasional : Pasien distress pernafasan akut, anoreksia karena dispnea, produksi sputum.

ü  Auskultasi bunyi usus    

Rasional : Penurunan bising usus menunjukkan penurunan motilitas gaster.

ü  Berikan perawatan oral

Rasional : Rasa tidak enak, bau adalah pencegahan utama yang dapat membuat mual dan muntah.

ü  Timbang berat badan sesuai indikasi

Rasional : Berguna menentukan kebutuhan kalori dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi.

ü  Konsul ahli gizi  

Rasional : Kebutuhan kalori yang didasarkan pada kebutuhan individu memberikan nutrisi maksimal.

  • Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan menetapnya sekret, proses penyakit kronis.   
    Tujuan : mengidentifikasi intervensi untuk mencegah resiko tinggi   

Rencana Tindakan: 

ü  Awasi suhu.       
Rasional : Demam dapat terjadi karena infeksi atau dehidrasi.

ü  Observasi warna, bau sputum. 
Rasional : Sekret berbau, kuning dan kehijauan menunjukkan adanya infeksi.

ü  Tunjukkan dan bantu pasien tentang pembuangan sputum.   
Rasional : mencegah penyebaran patogen.     

ü  Diskusikan kebutuhan masukan nutrisi adekuat.
Rasional : Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tekanan darah terhadap infeksi.   

ASKEP ENFISEMA

ASUHAN KEPERAWATAN ENFISEMA

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

            Banyak penyakit yang dikaitkan secara langsung dengan kebiasaan merokok. Salah satu yang harus diwaspadai adalah Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) / Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). Angka kesakitan penderita PPOK laki-laki mencapai 4%, angka kematian mencapai 6% dan angka kesakitan wanita 2% angka kematian 4%, umur di atas 45 tahun, (Barnes, 1997).

            Pada tahun 1976 ditemukan 1,5 juta kasus baru, dan tahun 1977 jumlah kematian oleh karena PPOK sebanyak 45.000, termasuk penyebab kematian di urutan kelima (Tockman MS., 1985). Menurut National Health Interview Survey, didapatkan sebanyak 2,5 juta penderita emfisema, tahun 1986 di Amerika Serikat didapatkan 13,4 juta penderita, dan 30% lebih memerlukan rawat tinggal di rumah sakit. The Tecumseh Community Health Study menemukan 66.100 kematian oleh karena PPOK, merupakan 3% dari seluruh kematian, serta urutan kelima kematian di Amerika (Muray F.J.,1988).          Di Indonesia tidak ditemukan data yang akurat tentang kekerapan PPOK. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) DEPKES RI 1992 menemukan angka kematian emfisema, bronkitis kronik dan asma menduduki peringkat ke-6 dari 10 penyebab tersering kematian di Indonesia (Hadiarto, 1998). Survey Penderita PPOK di 17 Puskesmas Jawa Timur ditemukan angka kesakitan 13,5%, emfisema paru 13,1%, bronkitis kronik 7,7% dan asma 7,7% (Aji Widjaja 1993). Pada tahun 1997 penderita PPOK yang rawat Inap di RSUP Persahabatan sebanyak 124 (39,7%), sedangkan rawat jalan sebanyak 1837 atau 18,95% (Hadiarto, 1998). Di RSUD Dr. Moewardi Surakarta tahun 2003 ditemukan penderita PPOK rawat inap sebanyak 444 (15%), dan rawat jalan 2368 (14%).

 

B.     Tujuan Penulisan

Tujuan umum

Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Pada anak dengan diare.

Tujuann khusus

1. Untuk mengetahui Pengkajian pada anak dengan diare

2. Untuk mengetahui Diagnosa keperawatan pada anak dengan diare

3. Untuk mengetahui Intervensi keperawatan pada anak dengan diare

4. Untuk mengetahui Implementasi keperawatan pada anak dengan diare

5. Untuk mengetahui Evaluasi keperawatan pada anak dengan diare

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

  1. A.    Definisi

            Emphysema (emfisema) adalah penyakit paru kronis yang dicirikan oleh kerusakan pada jaringan paru, sehingga paru kehilangan keelastisannya. Gejala utamanya adalah penyempitan (obstruksi) saluran napas, karena kantung udara di paru menggelembung secara berlebihan dan mengalami kerusakan yang luas.

            Emfisema adalah jenis penyakit paru obstruktif kronik yang melibatkan kerusakan pada kantung udara (alveoli) di paru-paru. Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan oksigen yang diperlukan. Emfisema membuat penderita sulit bernafas. Penderita mengalami batuk kronis dan sesak napas. Penyebab paling umum adalah merokok.

            Emfisema disebabkan karena hilangnya elastisitas alveolus. Alveolus sendiri adalah gelembung-gelembung yang terdapat dalam paru-paru. Pada penderita emfisema, volume paru-paru lebih besar dibandingkan dengan orang yang sehat karena karbondioksida yang seharusnya dikeluarkan dari paru-paru terperangkap didalamnya. Asap rokok dan kekurangan enzim alfa-1-antitripsin adalah penyebab kehilangan elastisitas pada paru-paru ini.

            Terdapat 3 (tiga) jenis emfisema utama, yang diklasifikasikan berdasarkan perubahan yang terjadi dalam paru-paru :

1)      PLE (Panlobular Emphysema/panacinar)

Merusak ruang udara pada seluruh asinus dan umumnya juga merusak paru-paru bagian bawah. Terjadi kerusakan bronkus pernapasan, duktus alveolar, dan alveoli. Merupakan bentuk morfologik yang lebih jarang, dimana alveolus yang terletak distal dari bronkhiolus terminalis mengalami pembesaran serta kerusakan secara merata. PLE ini mempunyai gambaran khas yaitu tersebar merata diseluruh paru-paru. PLE juga ditemukan pada sekelompok kecil penderita emfisema primer, Tetapi dapat juga dikaitkan dengan emfisema akibat usia tua dan bronchitis kronik.

2)      CLE (Sentrilobular Emphysema/sentroacinar)

Perubahan patologi terutama terjadi pada pusat lobus sekunder, dan perifer dari asinus tetap baik. Merupakan tipe yang sering muncul dan memperlihatkan kerusakan bronkhiolus, biasanya pada daerah paru-paru atas. Inflamasi merambah sampai bronkhiolus tetapi biasanya kantung alveolus tetap bersisa. CLE ini secara selektif hanya menyerang bagian bronkhiolus respiratorius. Dinding-dinding mulai berlubang, membesar, bergabung dan akhirnya cenderung menjadi satu ruang.

3)      Emfisema Paraseptal

Merusak alveoli lobus bagian bawah yang mengakibatkan isolasi blebs (udara dalam alveoli) sepanjang perifer paru-paru. Paraseptal emfisema dipercaya sebagai sebab dari pneumotorak spontan.

            PLE dan CLE sering kali ditandai dengan adanya bula tetapi dapat juga tidak. Biasanya bula timbul akibat adanya penyumbatan katup pengatur bronkiolus. Pada waktu inspirasi lumen bronkiolus melebar sehingga udara dapat melewati penyumbatan akibat penebalan mukosa dan banyaknya mukus.

 

 

  1. B.     Etiologi

1)      Faktor Genetik

Faktor genetik mempunyai peran pada penyakit emfisema. Faktor genetik diataranya adalah atopi yang ditandai dengan adanya eosinifilia atau peningkatan kadar imonoglobulin E (IgE) serum, adanya hiper responsive bronkus, riwayat penyakit obstruksi paru pada keluarga, dan defisiensi protein alfa – 1 anti tripsin.

2)      Hipotesis Elastase-Anti Elastase

Didalam paru terdapat keseimbangan antara enzim proteolitik elastase dan anti elastase supaya tidak terjadi kerusakan jaringan.Perubahan keseimbangan menimbulkan jaringan elastik paru rusak. Arsitektur paru akan berubah dan timbul emfisema.

3)      Rokok

Rokok adalah penyebab utama timbulnya emfisema paru. Rokok secara patologis dapat menyebabkan gangguan pergerakan silia pada jalan nafas, menghambat fungsi makrofag alveolar, menyebabkan hipertrofi dan hiperplasia kelenjar mukus bronkus dan metaplasia epitel skuamus saluran pernapasan.

4)      Polusi

Polutan industri dan udara juga dapat menyebabkan emfisema. Insiden dan angka kematian emfisema bisa dikatakan selalu lebih tinggi di daerah yang padat industrialisasi, polusi udara seperti halnya asap tembakau, dapat menyebabkan gangguan pada silia menghambat fungsi makrofag alveolar. Sebagai faktor penyebab penyakit, polusi tidak begitu besar pengaruhnya tetapi bila ditambah merokok resiko akan lebih tinggi.

 

  1. C.    Manifestasi Klinis

            Emfisema paru adalah suatu penyakit menahun, terjadi sedikit demi sedikit bertahun-bertahun. Biasanya mulai pada pasien perokok berumur 15-25 tahun. Pada umur 25-35 tahun mulai timbul perubahan pada saluran nafas kecil dan fungsi paru.Umur 35-45 tahun timbul batuk yang produktif. Pada umur 45-55 tahun terjadi sesak nafas, hipoksemia dan perubahan spirometri. Pada umur 55-60 tahun sudah ada kor-pulmonal, yang dapat menyebabkan kegagalan nafas dan meninggal dunia.

 

  1. D.    Patofisiologi

            Emfisema merupakan kelainan di mana terjadi kerusakan pada dinding alveolus yang akan menyebebkan overdistensi permanen ruang udara. Perjalanan udara akan tergangu akibat dari perubahan ini. Kerja nafas meningkat dikarenakan terjadinya kekurangan fungsi jaringan paru-paru untuk melakukan pertukaran O2 dan CO2. Kesulitan selama ekspirasi pada emfisema merupakan akibat dari adanya destruksi dinding (septum) di antara alveoli, jalan nafas kolaps sebagian, dan kehilangan elastisitas untuk mengerut atau recoil. Pada saat alveoli dan septum kolaps, udara akan tertahan di antara ruang alveolus yang disebut blebs dan di antara parenkim paru-paru yang disebut bullae. Proses ini akan menyebabkan peningkatan ventilatory pada ‘dead space’ atau area yang tidak mengalami pertukaran gas atau darah.

 

  1. E.     Penatalaksanaan

Penatalaksanaan emfisema paru terbagi atas:

  • Penyuluhan, Menerangkan pada para pasien hal-hal yang dapat memperberat penyakit, hal-hal yang harus dihindarkan dan bagaimana cara pengobatan dengan baik.
  • Pencegahan
  1. Rokok, merokok harus dihentikan meskipun sukar
  2. Menghindari lingkungan
  3. Vaksin, dianjurkan vaksinasi untuk mencegah eksaserbasi, terutama terhadap influenza dan infeksi pneumokokus.
  • Terapi Farmakologi, tujuan utama adalah untuk mengurangi obstruksi jalan nafas yang masih mempunyai komponen reversible meskipun sedikit. 4. Fisioterapi dan Rehabilitasi, tujuan fisioterapi dan rehabilitasi adalah meningkatkan kapasitas fungsional dan kualitas hidup dan memenuhi kebutuhan pasien dari segi social, emosional dan vokasional.
  • Pemberian O2 dalam jangka panjang, akan memperbaiki emfisema disertai kenaikan toleransi latihan. Biasanya diberikan pada pasien hipoksia yang timbul pada waktu tidur atau waktu latihan. Menurut Make, pemberian O2 selama 19 jam/hari akan mempunyai hasil lebih baik dari pada pemberian 12 jam/hari.

 

  1. F.     Pemeriksaan Penunjang
  • Pemeriksan radiologis, pemeriksaan foto dada sangat membantu dalam menegakkan diagnosis dan menyingkirkan penyakit-penyakit lain. Foto dada pada emfisema paru terdapat dua bentuk kelainan, yaitu:

1)      Gambaran defisiensi arter

Overinflasi, terlihat diafragma yang rendah dan datar,kadang-kadang terlihat konkaf. Oligoemia, penyempitan pembuluh darah pulmonal dan penambahan corakan kedistal.

2)      Corakan paru yang bertambah, sering terdapat pada kor pulmonal, emfisema sentrilobular dan blue bloaters. Overinflasi tidak begitu hebat.

3)      Pemeriksaan fungsi paru, pada emfisema paru kapasitas difusi menurun karena permukaan alveoli untuk difusi berkurang.

  • Sinar x dada: dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru; mendatarnya diafragma; peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda vaskularisasi/bula (emfisema); peningkatan tanda bronkovaskuler (bronkitis), hasil normal selama periode remisi (asma).
  • Tes fungsi paru: dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, untuk menentukan apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau restriksi, untuk memperkirakan derajat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek terapi, misalnya bronkodilator.
  • Sputum: kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi patogen; pemeriksaan sitolitik untuk mengetahui keganasan atau gangguan alergi.

 

 

BAB III

ASKEP TEORITIS

  1. A.                Pengkajian

1)                  Identitas Klien

Nama                                       : Tuan A

TTL                                         : 17/11/1970

Jenis Kelamin                          : Laki-laki

Umur                                       : 40 tahun

Pekerjaan                                 : Buruh bangunan

Nama Ayah/ Ibu                      : Tn. M (Alm) / Ny.M

Pekerjaan Istri                          : Ibu rumah tangga

Alamat                                                 : Jl. Kedinding 78, Surabaya

Agama                                                 : Islam

Suku bangsa                            : Jawa

Pendidikan terakhir                  : SD

Pendidikan terakhir Istri           : SD

Diagnosa                                  : Emfisema

2)      Riwayat Sakit dan Kesehatan

  1. Keluhan Utama : sesak napas.
  2. Riwayat Penyakit Sekarang :

Tuan A tinggal bersama istri dan dua anaknya. Tuan A mengeluh sesak napas, batuk, dan nyeri di daerah dada sebelah kanan pada saat bernafas. Banyak sekret keluar ketika batuk, berwarna kuning kental. Tuan A tampak kebiruan pada daerah bibir dan dasar kuku. Tuan A merasakan sedikit nyeri pada dada. Tuan A cepat merasa lelah saat melakukan aktivitas.

  1. Riwayat Penyakit dahulu : 

Tuan A selama 3 tahun terakhir mengalami batuk produktif dan pernah menderita pneumonia

  1. Riwayat Keluarga :

Tidak Ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama atau berhubungan dengan klien saat ini.

  1. Pengkajian Psikologi dan Spiritual

Klien kooperatif, tetap  rajin beribadah dan memohon agar penyakitnya bisa disembuhkan.

3)      Pemeriksaan Fisik

  1. Tanda-Tanda Vital : 

S           : 37,40C

N           :102 x/mnt

TD        :130/80 mmHg

RR        : 30 x/mnt

 

 

  1. Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System )

Pemeriksaan fisik pada klien dengan sinusitis meliputi pemeriksaan fisik umum per system dari observasi keadaan umum, pemeriksaan tanda-tanda vital,

  • Rambut dan hygiene kepala

rambut pasien hitam tidak berbau,keadaan rambut pasien tumbuh subur, dan kulit kepala pasien bersih tidak berketombe.

  • mata (kanan / kiri)

posisi mata pasien simetris,konjungtiva pasien anemis dan sklera pasien berwarna putih.

  • Penciuman (hidung) : tidak gangguan
  • Mulut dan tenggorokan

a)      Nafsu makan : anoreksi disertai mual

b)      BB : menurun

c)      Porsi makan : tidak habis

d)      Mulut : bersih

e)      Mukosa : lembab

  • Telinga

a)      Pendengaran (telinga) : tidak ada gangguan

b)      Kesadaran: gelisah

c)      Reflek: normal

  • Dada / thorax

a)      Bentuk dada : barrel chest

b)      Pola nafas : tidak teratur

c)      Suara napas : mungkin redup dengan ekspirasi mengi

d)      Batuk : ya, ada sekret

e)      Retraksi otot bantu napas : ada

f)       Alat bantu pernapasan : O2 masker 6 lpm

  • Jantung

a)      Irama jantung : regular; S1,S2 tunggal.

b)      Nyeri dada : ada, skala 6

c)      Akral : lembab

d)      Tekanan darah: 130/80 mmHg (hipertensi)

e)      Saturasi Hb O2 : hipoksia

  • Perkemihan

a)      Kebersihan : bersih

b)      Bentuk alat kelamin : normal

c)      Uretra : normal

d)      Produksi urin: normal

 

 

  1. B.     Diagnosa Keperawatan
  • Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan alveoli yang reversible.
  • Gangguan pola napas berhubungan dengan ventilasi alveoli.
  • Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya sekret.
  • Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen.

 

  1. C.    Intervensi
  • Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan alveoli yang reversible.

Tujuan : Pertukaran gas pasien kembali normal

Intervensi :

ü  Ajari klien tentang teknik penghematan energi.

ü  Bantu pasien untuk mengidentifikasi tugas-tugas yang bisa diselesaikan.

ü  Kolaborasikan pemberian oksigen sesuai indikasi

ü  Berikan penekan SSP (anti ansietas sedatif atau narkotik) dengan hati-hati sesuai indikasi

Rasional :

ü  Pasien dapat bernapas dengan lancer.

ü  Membantu ekspansi paru yang optimal.

ü  Evaluasi tingkat kemapuan pasien dan mempermudah perawat dalam merencanakan kriteria latihan lanjutan.

ü  Meningkatkan keadekuatan jalan napas.

  • Pola pernapasan tidak efektif  berhubungan dengan ventilasi alveoli

Tujuan : Tidak terjadi perubahan dalam frekuensi pola pernapasan.

Intervensi :

ü  Latih klien napas perlahan-lahan, bernapas lebih efektif.

ü  Jelaskan pada klien bahwa dia dapat mengatasi hiperventilasi melalui kontrol pernapasan secara sadar.

ü  Kolaborasikan pemberian obat-obatan sesuai indikasi dokter (ex. bronkodilator)

 

Rasional :

ü  Ventilasi alveoli normal.

ü  Tidak terjadi gangguan perubuhan fungsi pernapasan.

ü  Untuk melatih ketahanan jalan napas, serta memungkinkan untuk melatih batuk efektif.

ü  Mampu mengurangi ansietas klien dalam menghadapi hiperventilasi.

ü  Usaha untuk menstabilkan pola napasklien .

 

  • Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan meningkatnya sekret atau produksi mukus.

Tujuan : Mengatasi masalah ketidakefektifan jalan napas

Intervensi :

ü  Berikan posisi yang nyaman (fowler/ semi fowler)

ü  Anjurkan untuk minum air hangat

ü  Bantu klien untuk melakukan latihan batuk efektif bila memungkinkan

ü  Lakukan suction bila diperlukan, batasi lamanya suction kurang dari 15 detik dan lakukan pemberian oksigen 100% sebelum melakukan suction

ü  Pasien lebih nyaman, karena dapat membantu kelancaran pola nafasnya

Rasional :

ü  Air hangat dapat mengencerkan sekret

ü  Batuk efektif akan membantu mengeluarkan sekret

ü  Jalan nafas bersih.

 

  • Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen.

Tujuan :

–          Pasien bernafas dengan efektif.

–          Mengatasi masalah intoleransi aktivitas pada pasien

Intervensi :

ü  Ukur tanda vital saat istirahat dan segera setelah aktivitas serta frekuensi, irama dan kualitas.

ü  Hentikan aktifitas bila respon klien : nyeri dada, dyspnea, vertigo/konvusi, frekuensi nadi, pernapasan, tekanan darah sistolik menurun.

ü  Meningkatkan aktifitas secara bertahap.

ü  Ajarkan klien metode penghematan energi untuk aktifitas. ubah posisi setiap 2 sampai 4 jam

ü  Masalah intoleransi aktivitas pada pasien dapat teratasi untuk mengukur tingkat/kualitas nyeri guna intervensi selanjutnya

Rasional :

ü  Untuk melatih ketahanan muskuloskeletal klien, agar tidak terjadi syok.

ü  Penghematan energi  seperti bed-rest sangat membantu meningkatkan keadekuatan pernapasan klien.

ü  Mengetahui kebiasaan klien dalam beristirahat serta membantu menentukan langkah yang tepat untuk mengoptimalkan periode istirahat klien.

ASKEP TUMOR PADA HIDUNG

                                                      ASKEP TUMOR PADA HIDUNG


BAB I
PENDAHULUAN

  1. A.     Latar Belakang

Tumor hidung dan sinus paranasal pada umumnya jarang ditemukan, baik yang jinak maupun yang ganas. Di indinesia dan diluar negri,kekerapan jenis yang ganas hanya sekitar 1% dari keganasan seluruh tubuh atau 3% dari seluruh keganasan di kepala dan leher. Hidung dan sinus paranasal atau disebut sinonasal merupakan daerah yang terlindungi sehingga tumor yang timbul didaerah ini sulit diketahui secara dini. Asal tumor primer juga sulit ditemukan ,apakah dari hidung atau sinus karena biasanya pasien berobat dalam keadaan penyakit telah lanjut dan tumor sudah memenuhi rongga hidung dan seluruh sinus. Data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit utama atau sekitar 102.817 penderita rawat jalan di rumah sakit.

Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran 1996 yang diadakan oleh Binkesmas bekerja dengan PERHATI dan bagian THT RSCM mendapatkan data penyakit hidung dari 7 propinsi. Data dari Divisi Rinologi Departemen THT RSCM januari – agustus 2005 menyebutkan jumlah pasien rinologi pada kurun waktu tersebut adalah 435 pasien dari jumlah resebut 30% mempunyai indikasi operasi BSEF.

 

  1. B.     TUJUAN PENULISAN

Tujuan umum

Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Pada anak dengan diare.

Tujuann khusus

1. Untuk mengetahui Pengkajian Tumor pada hidung

  1. Untuk mengetahui Diagnosa keperawatan Tumor pada hidung

3. Untuk mengetahui Intervensi keperawatan Tumor pada hidung

4. Untuk mengetahui Implementasi keperawatan Tumor pada hidung

5. Untuk mengetahui Evaluasi keperawatan Tumor pada hidung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

  1. A.     DEFINISI

            Tumor hidung adalah pertumbuhan ke arah ganas yang mengenai hidung dan lesi yang menyerupai tumor pada rongga hidung, termasuk kulit dari hidung luar dan vestibulum nasi.

  1. B.     ETIOLOGI

            Insiden tertinggi tumor ganas hidung dan sinus ditemukan di Jepang yaitu 2/10.000 penduduk pertahun. Di bnagian THT FKUI-RSCM, keganasan inin ditemukan pada 10,1% dari seluruh tumor ganas THT. Radio penderita laki – laki banding wanita sebesar 2 : 1.Etiologi tumor ganas hidung belum diketahui, tetapi diduga beberapa zat hasil industri merupakan penyebab antara lain nikel, debu kayu, kulit, formaldehid, kromium, minyak isopropyl dan lain – lain. Pekerja di bidang ini mendapat kemungkinan terjadi keganasan sinonasal jauh lebih besar. Banyak laporan mengenai kasus adeno-karsinoma sinus etmoid pada pekerjaan-pekerjaa industri penggergajian kayu dan pembuatan mebel. Alkohol, asap rokok, makanan yang diasinin atau diasap diduga meningkatkan kemungkinan terjadi keganasan, sebaliknya buah-buahan dan sayur-sayuran mengurangi kemungkinan terjadi keganasan.

  1. C.     MANIFESTASI KLINIS

            Gejala tergantung dari asal primer tumor serta arah dan di perluasannya. Tumor di dalm sinus maksila biasanya tanpa gejala. Gejala timbul setelah tumor besar, mendorang atau menembus dinding tulang meluas ke rongga hidung, rongga mulut, pipi atau orbita.

Tergantung dari perluasan tumor, gejala dapat di kategorikan sebagai berikut :

1)      Gejala nasal

Gajala nasal berupa obstruksi hidung unilateral dan rinoreal. Sekretnya sering bercampur darah atau terjadi epistaksis. Tumor yang besar dapat mendesak tulang hidung sehingga terjadi deformitas hidung. Khas pada tomur ganas ingusnya berbau karna mengandung jaringan nekrotik.

2)      Gejala orbital

Perluasan tumor ke arah orbital menimbulkan gejala diplopia, proptosis atau penonjolan bola mata, oftalmoplegia gangguan visus dan efipora.

3)      Gejala oral

Perluasan tumor ke rongga mulut menyebabkan penonjolan atau ulkus dipalatum atau di prosesus alveolaris. Pasien mengeluh gigi palsunya tidak pas lagi atau gigi geligi goyah. Sering pasien datang ke dokter gigi kaenanyeri di gigi, tetapi tidak sembuh meskipun gigi yang sakit telah di cabut.

4)      Gejla fasial

Perluasan tumor ke depan akan menyebabkan penonjolan pipi. Disertai nyeri,anestesia atau prestsia muka jika mengenai nervus trigeminus

 

 

 

5)      Gejala intrakranial

Perluasan tumor ke intrakranial menyebabkan sakit kepala hebat, oftalmoplegia dan gangguan visus. Dapat disertai likoorea, yaitu cairan otak yang keluar melalui hidung. Jika perluasan sampai ke fossa kranii media maka syaraf-syaraf kranial lainnya juga terkena. Jika tumor meluas kebelakang terjadi terismus akibat terkenanya muskuluspterigoideus disertai anestesia dan prestesi daerah yang di persyarafi nervus maksilaris dan mandibularis.

Saat pasien berobat biasanya tumor sudah dalam fase lanjut. Hal lain juga menyebabkan diagnosis terlambat adalah kerna gejala dininya mirip dengan rinitis atau sinusitis kronis sehingga sering di abaikan pasien maupun dokter.

  1. D.    PATOFISIOLOGI

            Berbagai jenis tipe tumor berbeda telah dijelaskan terdapat pada rahang atas. Jenis histologis yang paling umum adalah karsinima sel skuamosa, mewakili sekitar 80% kasus. Lokasi primer tidak selalu mudah untuk ditentukan dengan sejumlah sinus berbeda yang secara umum terlibat seiring waktu munculnya pasien. Mayoritas (60%) tumor tampaknya berasal dari antrum, 30% muncul dalam rongga hidung, dan sisa 10% muncul dari etmoid. Tumor primer frontal dan sfenoid sangat jarang. Limfadenopati servikal teraba muncul pada sekitar 15% pasien pada presentasi. Gambaran kecil ini disebabkan drainase limfatik sinus paranasal ke nodus retrofaring dan dari sana ke rantai servikal dalam bawah. Sebagai akibat nya, nodus yang terlibat diawal tidak mudah dipalpasi di bagian leher manapun.

  1. E.     KLASIFIKASI
    1. 1.      TUMOR JINAK

      Tumor jinak tersering adalah papiloma skuamosa. Secara makroskopis mirip dengan polip, tetapi lebih vaskuler, padat dan tidak mengkilap. Ada 2 papiloma, pertama eksofitik atau fungi form dan yang kedua endofitik disebut papiloma inverted. Popiloma inverted ini bersifat sangat cenderung untuk residif dan dapat berubah menjadi ganas. Lebih sering dijumpai pada anak laki-laki usia tua. Terapi adalah bedah radikal misalnya rinotomi lateral atau maksilektomi media.

      Tumor jinak  angiofibroma nasofaring sering bermanisfestasi sebagai massa yang mengisi rongga hidung bahkan juga mengisi seluruh rongga sinus paranasal dan mendorong bola mata ke anterio.

  1. 2.      TUMOR GANAS

      Tumor gans yang tersering adalah karsinoma sel skuamosa (70%), disusul oleh karsinoma yang berdeferensiasi dan tumor kelenjar. Sinus maksila adalah yang tersering terkena (65 -80%), disusul sinus etmoid (15-25%), hidung sendiri (24%), sedangkan sinus sphenoid dan frontal jarang terkena.

      Metastasis ke kelenjar leher jarang terjafi (kurang dari 5%) karena rongga sinus sangat miskin daengan system limfe kecuali bila tumor sudah menginfiltrasi jaringan lunak hidung dan pipi yang kaya akan system limfatik. Metastasis jauh juga jarang ditemukan (kurang dari 10%) dan organ yang sering terkena metastasis jauh adalah hati dan paru.

 

 

 

 

  1. F.      PENATALAKSANAAN

            Pembedahan atau lebih sering bersama dengan modalitas terapi lainnya seprti radiasi dan kemotrapi sebagai ajuvan sampai saat ini masih merupakan pengobatan utama untuk keganansan di hidung dan sinus paranasal. Pembedahan masih di indikasikan walaupun menyebabkan morbiditas yang tinggi bila terbukti dapat mengangkat tumor secra lengkap. Pembedahan di  kontraindikasikan pada kasus-kasus yang telah bermetastasis jauh, sudah meluas ke sinus kavernosus bilateral atau tumor sudah mengenai kedua orbita.

            Kemoterapi bermanfaat pada tumor ganas dengan metastasis atau jenis yang sangat baik dengan kemotrapi misalnya limfoma malignum. Pada tumor jinak dilakukan ekstirpasi tumor sebersih mungkin. Bila perlu dilakukan dengan cara pendekatan rinotomi lateral atau degloving (peningkapan).

Untuk tumor ganas, tindakan operasi harus seradikal mungkin. Biasanya dilakukan maksilektomi, dapat berupa maksilektomi medial, total atau radikal. Maksilektomi radikal dilakukan misalnya pada tumor yang sudah mengenai seluruh dinding sinus maksila dan seringjuga masuk ke rongga orbital, sehingga pengangkatan maksisla dilakukan  secara en bloc disertai eksenterasi orbita.  Jika tumor sudah masuk ke rongga interakranial dilakukan reseksi kraniofasial atau kalau perlu kraniotomi, tindakan dilakukan dalam tim bersama dokter bedah saraf.

 

  1. G.    PEMERIKSAAN PENUNJANG

            Foto polos sinus paranasal kurang berfungsi dalam mendiagnosis dan menentukan parluasan tumor kecuali pada tumor tulang seprti osteoma. Tetapi foto polos teetap berfungsi sebagai diagnosis awal, terutama jika ada erosi tulang dan perselubungan padat unilateral, harus dicurigai keganansan dan buatlah tomogram atau CT scan. CT scan merupakan sarana terbaik karenalebihjelas memperlihatkan perluasan tumor dan destruksi tulang. MRI atau magnetic resonance imaging dapat membedakan jaringan tumor dari jaringan normaltetapi kurang begitu baik dalam memperlihatkan destruksi tulang.Foho polos paru diperlukan untuk melihat adanya metastase tumor di paru.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

ASKEP TEORITIS

  1. A.     PENGKAJIAN

1)      Identitas pesien

  • Nama                                       : Tuan H
  • TTL                                         : 30/11/1960
  • Jenis Kelamin                            : Laki-laki
  • Umur                                        : 52 tahun
  • Pekerjaan                                 : Buruh bangunan
  • Nama Ayah/ Ibu                       : Tn. M (Alm) / Ny.M
  • Pekerjaan Istri                           : Ibu rumah tangga
  • Alamat                                                 : Jl. Kedinding 78, Surabaya
  • Agama                                                 : Islam
  • Suku bangsa                              : Jawa
  • Pendidikan terakhir                    : SD
  • Pendidikan terakhir Istri             : SD
  • Diagnosa                                  : Tumor pada hidung

2)      Riwayat Kesehatan Sekarang

Biasanya klien mengeluh sulit bernafas.

3)      Riwayat Kesehatan Dahulu

–          Klien  pernah menderita penyakit akut dan pendarahan hidung atau trauma

–          Pernah mempunyai riwayat penyakit THT

–          Pernah menderita sakit gigi geraham

4)      Riwayat Kesehatan Keluarga

Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang mungkin berhubungan dengan penyakit klien sekarang

5)      Riwayat Fsikososial

–          Intrapersonal : klien terlihat cemas dah sedih

–          Interpersonal : hubungan klien dengan anggota keluarga baik

6)      Pola Fungsi Kesehatan

  • Pola persepsi klien dan tatalaksana hidup sehat

Untuk mengurangi flu biasanya klien mengkomsumsi obat tanpa memperhatikan efek samping

  • Pola nutrisi dan metabolisme

Nafsu makan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung

  • Pola istirahat dan tidur

Klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering pilek

 

 

  • Pola persepsi dan konsep diri

Klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsep diri menurun

7)      PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System )
Pemeriksaan fisik pada klien dengan sinusitis meliputi pemeriksaan fisik umum per system dari observasi keadaan umum, pemeriksaan tanda-tanda vital,

a)      Rambut dan hygiene kepala
rambut pasien hitam tidak berbau,keadaan rambut pasien tumbuh subur, dan kulit kepala pasien bersih tidak berketombe.

b)      mata (kanan / kiri)
posisi mata pasien simetris,konjungtiva pasien anemis dan sklera pasien berwarna putih.

c)      Penciuman (hidung) : ada gangguan

  • Buntu hidung unilateral dan progresif.
  • Buntu bilateral bila terjadi pendesakan ke sisi lainnya.
  • Skret hidung bervariasi, purulen dan berbau bila ada infeksi.
  • Sekret yang tercampur darah atau adanya epistaksis menunjukkan kemungkinan keganasan.
  • Rasa nyeri di sekitar hidung dapat diakibatkan oleh gangguan ventilasi sinus, sedangkan rasa nyeri terus-menerus dan progresif umumnya akibat infiltrasi tumor ganas.

d)      Mulut dan tenggorokan

  • Nafsu makan : menurun
  • Porsi makan : setengah
  • Mulut : bersih
  • Mukosa : lembap
  • Pembengkakan pipi
  • Pembengkakan palatum durum
  • Geraham atas goyah, maloklusi gigi

e)      Telinga

  • Pendengaran (telinga) : tidak ada gangguan
  • Kesadaran: gelisah
  • Reflek: normal

f)       Dada / thorax

  • Bentuk dada : normal
  • Pola napas : tidak teratur
  • Suara napas : ronkhi
  • Sesak napas : ya
  • Batuk : tidak
  • Retraksi otot bantu napas ; ya

 

g)      Jantung

  • Irama jantung : regular
  • Nyeri dada : tidak
  • Bunyi jantung ; normal

h)      Perkemihan

  • Kebersihan : bersih
  • Bentuk alat kelamin : normal
  • Uretra : normal
  • Produksi urin: normal
  1. B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN

1)      Obstruksi jalan nafas berhubungan dengan kebersihan jalan nafas tidak efektif

2)      Nyeri akut berhubungan dengan infeksi saluran nafas atas maupun pengeringan mukosa hidung

3)      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh  b/d peningkatan status metabolik akibat keganasan, efek radioterapi/kemoterapi dan distres emosional

  1. C.     INTERVENSI KEPERAWATAN
  • Obstruksi jalan nafas berhubungan dengan kebersihan jalan nafas tidak efektif

Tujuan : bersihkan jalan nafas menjadi efektif

Kriteria : frekuensi nafas normal, tidak ada suara nafas tambahan, tidak menggunakan otot pernafasan tambahan, tidak terjadi dispnoe dan sianosis.

Intervensi :

ü  Kaji bunyi nafas atau kedalaman pernapasan dan gerakan dada.

ü  Catat kemampuan mengeluarkan mukosa/batuk efektif

ü  Berikan posisi fowler atau semi fowler

ü  Bersihkan skret dari mulut dan trakea

Rasional :

ü  Penurunan bunyi nafas dapat menyebabkan atelektasis, ronchi dan wheezing menunjukkan akumulasi sekret

ü  Sputum berdarah kental atau cerah dapat diakibatkan oleh kerusakan paru atau luka bronchial

ü  Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernafasan

ü  Mencegah obstruksi/ aspirasi

  • Nyeri akut berhubungan dengan infeksi saluran nafas atas maupun pengeringan mukosa hidung

Tujuan :  nyeri  berkurang atau hilang

Kriteria :

–          Klien mengatakan nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang

–          Klien tidak mengeluh kesakitan lagi

 

 

 

Intervensi :

ü  Kaji tingkat nyeri klien

ü  Jelaskan sebab dan akibat pada klien serta keluarganya

ü  Ajarkan teknik relaksasi dan distrsksi

ü  Obstervasi tanda-tanda vital dan keluhan klien

Rasional :

ü  Mengetahui tingkat nyeri klien dalam menentukan tindakan selanjutnya

ü  Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk menguragi nyeri

ü  Klien mengetahui teknik distraksi dan relaksasi sehingga dapat memperaktekkananya bila mengalami nyeri

ü  Mengetahui keadaan dan perkembangan klien

  • Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh  b/d peningkatan status metabolik akibat keganasan, efek radioterapi/kemoterapi dan distres emosional

Intervensi :

ü  Dorong klien untuk meningkatkan asupan nutrisi (tinggi kalori tinggi protein) dan asupan cairan yang adekuat.

ü  Kolaborasi dengan tim gizi untuk menetapkan program diet pemulihan bagi klien.

ü  Berikan obat anti emetik dan roborans sesuai program terapi.

ü  Dampingi klien pada saat makan, identifikasi keluhan klien tentang makan yang disajikan.

ü  Timbang berat badan dan ketebalan lipatan kulit trisep (ukuran antropometrik lainnya) sekali seminggu

ü  Kaji hasil pemeriksaan laboratorium (Hb, limfosit total, transferin serum, albumin serum)

Rasional :

ü  Asupan nutrisi dan cairan yang adekuat diperlukan untuk mengimbangi status hipermetabolik pada klien dengan keganasan.

ü  Kebutuhan nutrisi perlu diprogramkan secara individual dengan melibatkan klien dan tim gizi bila diperlukan.

ü  Anti emetik diberikan bila klien mengalami mual dan roborans mungkin diperlukan untuk meningkatkan napsu makan dan membantu proses metabolisme.

ü  Mencegah masalah kekurangan asupan yang disebabkan oleh diet yang disajikan.

ü  Menilai perkembangan masalah klien.

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

  1. A.     KESIMPULAN

            Tumor hidung adalah pertumbuhan kearah ganas yang mengenai hidung dan lesi yang menyerupai tumor pada rongga hidung, termasuk kulit dari hidung luar dan vestibulum nasi. Gejala tergantung dari asal primer tumor serta arah dan perluasanya. Tumor di dalam sinus maksila biasanya tanpa gejala. Gejala timbul setelah tumor beras, sehingga mendesak atau menembus dinding tulang meluas ke rongga hidung, rongga mulut, pipi, orbita atau intrakrania.

Tergantung dari perluasan tumor, gejala dapat di kategorikan sebagai berikut :

  • Gejala nasal
  • Gejala orbital
  • Gejala oral
  • Gejla fasial
  • Gejala intrakranial

askep blefaritis

ASUHAN KEPERAWATAN BLEFARITIS

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

            Saat ini banyak sekali masyarakat yang tidak peduli akan kesehatan dirinya. Sehingga

memunculkan masalah-masalah kesehatan terutama gangguan pada indra penglihatan, salah

satunya adalah bagian kelopak mata. Biasanya masyarakat menganggap remeh penyakit ini

karena mereka beranggapan bahwa penyakit ini akan segera hilang. Padahal bila tidak ditangani

dengan serius maka akan muncul berbagai komplikasi dari penyakit ini seperti Blefaritis salah

satunya. Selain itu, penyakit ini juga dapat mengganggu pencitraan dirinya. Disinilah peran

tenaga medis sangat dibutuhkan bagi masyarakat sebagai upaya memperbaiki tingkat kesehatan

masyarakat.

                  Blefaritis adalah radang pada kelopak mata. Radang yang sering terjadi pada kelopak

merupakan radang kelopak dan tepi kelopak. Radang bertukak atau tidak pada tepi kelopak

bisanya melibatkan folikel dan kelenjar rambut. Blefaritis ditandai dengan pembentukan minyak

berlebihan di dalam kelenjar di dekat kelopak mata yang merupakan lingkungan yang disukai

oleh bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di kulit.

 

 

  1. B.     Tujuan Penulisan
  • Dapat mengetahui pengertian blefaritis
  • Mampu menyebutkan penyebab terjadinya blefaritis
  • Dapat menyebutkan bagaimana tanda dan gejala dari  penyakit blefaritis
  • Mengetahui tentang klasifikasi dari blefaritis
  • Mampu menyebutkan faktor pencetus dari penyakit blefaritis
  • Dapat mengetahui komplikasi yang ditimbulkan dari penyakit blefaritis
  • Pasien dan keluarga dapat mengetahui pengobatan dari penyakit blefaritis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

 

 

  1. A.    Konsep Dasar Penyakit
  2. 1.      Definisi

 

            Blefaritis adalah radang pada kelopak mata, sering mengenai bagian kelopak mata dan

tepi kelopak mata. Pada beberapa kasus disertai tukak atau tidak pada tepi kelopak mata,biasanya

melibatkan folikel dan kelenjar rambut.

            Blefaritis adalah peradangan bilateral sub akut/menahun pada tepi kelopak mata (margo palpebra).

            Blefaritis adalah inflamasi pada pinggir kelopak mata biasanya disebabkan oleh sthopilokokus.

Ada 2 macam blefaritis :

ü  Infeksi yang terjadi pada kelopak mata

Pada kasus ini bulu mata rontok dan tidak diganti oleh yang baru karena ada destriksi folikel

rambut. Pada pangkal rambut terdapat sisik kering (krusta) berwarna kuning pada bulu mata.

Palpebra merah (mata”bertepi merah”)

ü  Blefaritis seborrheik

Inflamasi kelenjar kulit didalam bulu mata/kelenjar bulu mata. Pada kasus ini bulu mata cepat

jatuh tetapi dapat diganti yang baru karena tidak ada destruksi folikel rambut. Didapatkan

skuama (sisik berminyak) tepian palpebra tidak begitu merah.

 

  1. 2.      Epidemiologi

 

            Pada 5% dari total jumlah penyakit mata yang dilaporkan pada rumah sakit (sekitar 2-5%

berasal dari konsultasi pasien yang punya kaitan dengan penyakit mata). Insidensi blefaritis

menurut WHO : Blefaritis staphylococcal sering terjadi pada wanita pada usia rata-rata 42 tahun

dan biasanya disertai dengan mata kering pada 50% kasus, blefaritis seboroik umumnya terjadi

pada pria dan wanita pada rata-rata usia 50 tahun dan disertai mata kering pada 33% kasus,

sedangkan pada blefaritis meibom juga umum terjadi pada pria dan wanita pada usia rata-rata 50

tahun, dan disertai syndrom mata kering sekitar 20-40%.

 

  1. 3.      Etiologi

 

            Berdasarkan penyebabnya blefaritis dapat dibagi menjadi 2 yaitu:

ü  Blefaritis Ulseratif

            Penyebabnya adalah staphylococcus aureus (stafilikokus epidermis).

ü  Blefaritis Non-Ulseratif

            Penyebabnya adalah kelainan metabolisme dan jamur pitirusponem ovale.

 

 

 

 

 

            Secara umum :

ü  Infeksi/alergi yang biasanya berjalan kronik/akibat disfungsi kelenjar meibom.

            Contoh : Debu, asap, bahan kimia, iritatif/bahan kosmetik.

ü  Infeksi bakteri stafilokok, streptococcus alpha/beta hemolyticus, pnemokok, psedomonas, demodex folliculorum, hingga pityrosporum ovale.

ü  Infeksi oleh virus disebabkan herpes zoster, herpes simplex, vaksinia dan sebagainya.

ü  Jamur dapat menyebabkan superfisial (sistemik).

 

            Blefaritis dapat disebabkan infeksi staphlococcus, dermatitis seboroik, gangguan kelenjar

meibom, atau gangguan dari ketiganya. Blefaritis anterior biasanya disebabkan karena infeksi

staphylococcus aureus, didapatkan pada 50% pada pasien yang menderita blefaritis, tapi hanya

10% orang yang tidak memberikan gejala blefaritis namun ditemukan bakteri staphylococcus.

Infeksi staphylococcus epidermis didapatkan sekitar 95% pasien. Blefaritis seboroik serupa

dengan dermatitis seboroik, dan posterior blefaritis (meibomian blefaritis) disebabkan gangguan

kerja kelenjar meibom.

            Kelenjar meibom yang ada sepanjang batas kelopak mata, dibelakang

batas bulu mata, kelenjar ini menghasilkan minyak ke kornea dan konjungtiva. Kelenjar ini

disekresikan dari lapisan luar air mata yang bisa menghambat penguapan air mata, dan membuat

permukaan mata menjadi tetap halus, serta membantu menjaga struktur dan keadaan mata.

Sekresi protein pada pasien yang menderita kelainan kelenjar meibom berbeda komposisi dan

kuantitas dari orang dengan mata normal. Ini menjelaskan kenapa pada pasien dengan kelainan

kelenjar meibom jarang menderita sindrom mata kering. Kelenjar meibom berasal dari glandula

sebasea.

 

  1. 4.      Patofisiologi

            Patofisiologi blefaritis biasanya terjadi kolonisasi bakteri pada mata. Hal ini

mengakibatkan invasi mikrobakteri secara langsung pada jaringan ,kerusakan sistem imun atau

kerusakan yang disebabkan oleh produksi toksin bakteri , sisa buangan dan enzim. Kolonisasi

dari tepi kelopak mata dapat ditingkatkan dengan adanya dermatitis seboroik dan kelainan fungsi

kelenjar meibom.

  1. 5.      Klasifikasi

 

  • Blefaritis Bakterial
  1. Blefaritis Superfisial

            Bila infeksi kelopak superfisial disebabkan oleh staphylococcus maka pengobatan yang terbaik adalah dengan salep antibiotik seperti sulfasetamid dan sulfisolksazol. Sebelum pemberian antibiotik krusta diangkat dengan kapas basah. Bila terjadi blefaritis menahun maka dilakukan penekanan manual kelenjar meibom untuk mengeluarkan nanah dari kelenjar meibom (Meibormianitis), yang biasanya menyertai.

 

 

 

 

 

 

  1. Blefaritis Seboroik

            Merupakan peradangan menahun yang sukar penanganannya. Biasanya terjadi pada laki-laki usia lanjut (50 tahun), dengan keluhan mata kotor, panas, dan rasa kelilipan. Gejalanya adalah sekret yang keluar dari kelenjar meiborn, air mata berbusa pada kantus lateral, hiperemia, dan hipertropi pupil pada konjungtiva. Pada kelopak dapat terbentuk kalazion, hordeolum, madarosis, poliosis, dan jaringan keropeng. Pengobatannya adalah dengan membersihkan menggunakan kapas lidi hangat. Kompres hangat sela 5-10 menit. Kelenjar meibom ditekan dan dibersihkan dengan shampo bayi.

 

  1. Blefaritis Skumosa

            Blefaritis skuamosa adalah blefaritis disertai adanya skuama atau krusta pada pangkal bulu mata yang bila dikupas tidak mengakibatkan terjadinya luka kulit. Merupakan peradangan tepi kelopak terutama yang mengenai kulit didaerah akar bulu mata dan sering terdapat pada orang yang berambut minyak. Penyebabnya adalah kelainan metabolik ataupun oleh jamur. Pasien dengan  blefaritis skuamosa akan terasa gatal dan panas. Pada blefaritis skuamosa terdapat sisik berwarna halus-halus dan penebalan margo palpebra disertai madarosis. Sisik ini mudah dikupas dari dasarnya mengakibatkan pendarahan. Pengobatan blefaritis skuamosa ialah dengan membersihkan tepi kelopak dengan shampo bayi, salep mata, dan steroid setempat disertai dengan memperbaiki metabolisme pasien.

 

d.      Blefaritis Ulseratif

            Merupakan peradangan tepi kelopak atau blefaritis dengan tukak akibat infeksi staphylococcus. Pada blefaritis ulseratif terdapat keropeng berwarna kekuning-kuningan yang bila diangkat akan terlihat ulkus yang kecil dan mengeluarkan darah disekitar bulu mata. Pada blefaritis ulseratif skuama yang terbentuk bersifat kering dan keras, yang bila diangkat akan terjadi luka dngan disertai pendarahan. Pengobatan dengan antibiotik dan higiene yang baik sedangkan pada blefaritis ulseratif dapat dengan sulfasetamid, gentamisin atau basitrasin. Apabila ulseratif mengalami peluasan, pengobatan harus ditambah antibiotik sistemik dan diberi roboransia.

 

  1. Blefaritis Angularis

            Merupakan infeksi staphlococcus pada tepi kelopak di sudut kelopak atau kantus. Blefaritis angularis yang mengenai sudut kelopak mata (kantus eksternus dan internus) sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada fungsi puntum lakrimal. Blefaritis angularis disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Kelainan ini biasanya bersifat rekuren. Befaritis angularis diobati dengan sulfa, tetrasiklin dan seng sulfat. Penyulit pada punctum lakrimal bagian medial sudut mata yang akan menyumbat duktus lakrimal.

 

  1. Blefaritis Meibomianitis

            Merupakan infeksi pada kelenjar meibom yang akan mengakibatkan tanda peradangan lokal pada kelenjar tersebut. Meibomianitis menahun perlu pengobatan kompres hangat, penekanan dan pengeluaran nanah dari dalam berulang kali disertai antibiotik lokal.

 

 

 

 

  • Blefaritis Virus
  1. Herpes Zoster

            Virus ini dapat memberikan infeksi pada ganglion saraftrigeminus Biasanya.virus ini akan mengenai orang dengan usia lanjut. Bila yag terkena ganglion cabang oftalmik maka akan terlihat gejala-gejala herpes zoster pada mata dan kelopak mata atas. Gejala tidak akan melampaui garis medin kepala dengan tanda-tanda yang terlihat pada mata adalah rasa sakit pada daerah yang terkena dan badan terasa demam. Pada kelopak mata terlihat vesikel dan infiltrat pada kornea bila mata terkena. Lesi vesikel pada cabang oftalmik saraf trigeminus superfisial merupakan gejala yang khusus pada infeksi herpes zoster mata.

      

  1. Herpes Simplex

            Vesikel kecil dikelilingi eritema yang dapat disertai dengan keadaan yang sama pada bibir merupakan tanda herpes simplex kelopak. Dikenal bentuk blefaritis simplex yang merupakan radang tepi kelopak ringan dengan terbentuknya krusta kuning basah pada tepi bulu mata, yang mengakibatkan kedua kelopak lengket.

  • BLEFARITIS JAMUR
  1. Infeksi superfisial
  2. Infeksi jamur dalam
  3. Blefaritis pedikulosis : kadang-kadang pada penderita dengan higiene yang buruk akan dapat bersarang tuma atau kutu pada pangkal silia di daerah margo palpebra.

 

  1. 6.      Mekanisme Klinis

Gejala :

  • Blefaritis menyebabkan kemerahan dan penebalan, bisa juga terbentuk sisik dan keropeng atau luka terbuka yang dangkal pada kelopak mata.
  • Blefaritis bisa menyebabkan penderita merasa ada sesuatu di matanya. Mata dan kelopak mata terasa gatal, panas, dan menjadi merah. Bisa terjadi pembengkakan kelopak mata dan beberapa helai bulu mata rontok.
  • Mata menjadi merah, berair dan peka terhadap cahaya terang. Bisa juga terbentuk keropeng yang melekat erat pada tepi kelopak mata; jika keropeng dilepaskan, bisa terjadi pendarahan.
  • Selama tidur, sekresi mata mengering sehingga ketika bangun kelopak mata sukar dibuka.

 

Tanda :

  • Skuama pada tepi kelopak
  • Jumlah bulu mata berkurang
  • Obstruksi dan sumbatan duktus meibom
  • Sekresi Meibom keruh
  • Infeksi pada tepi kelopak
  • Abnormalitas film air mata.

 

 

 

 

  1. 7.      Pemeriksaan Fisik
  • Visus
  • Pemeriksaan (loupe, slit lamp) : permukaan konjungtiva, kornea, COA, Iris dan pupil
  • Palpasi : Odema kelopak mata, kejang kelopak mata.

 

  1. 8.      Pemeriksaan Penunjang

           Dilakukan pemeriksaan mikrobiologi untuk mengetahui penyebabnya:

  • Uji Laboratorium
  • Radiografi
  1. Fluorescein Angiografi
  2. Computed Tomografi
  3. Pemeriksaan dengan slit lamp

                                                                                                          

  1. 9.      Pengobatan

            Pengobatan tergantung dari jenis blefaritisnya, namun kunci dari semua jenis blefaritis adalah menjaga kebersihan kelopak mata dan menghindarkan dari kerak. Sangat dianjurkan untuk mengurangi dan menghentikan penggunaan bedak atau kosmetik saat dalam penyembuhan blefaritis, karena jika kosmetik tetap digunakan maka akan sulit untuk menjaga kelopak mata tetap bersih. Kompres dengan air hangat untuk mengurangi kerak. Bila belum terjadi komplikasi bahan pembersih seperti campuran air dan shampo bayi atau dengan menggunakan produk pembersih kelopak mata dapat pula  dipergunakan. Untuk kasus yang disebabkan oleh infeksi bakteri, antibiotik dapat dipergunakan sedangkan untuk membasmi bakteri terkadang diberikan salep antibiotik (misalnya erythroicyn atau sulfacetamide) atau antibiotik per oral (misalnya tetracycline).

            Jika terdapat dermatitis seboroik maka harus diobati terlebih dahulu. Jika terdapat kutu, bisa dihilangkan dengan mengoleskan dengan jeli petroleum pada dasar bulu mata. Jika kelenjar kelopak mata tersumbat, maka perlu dilakukan pemijitan pada kelopak mata untuk mengeluarkan sisa yang mengumpul sehingga bisa menghambat aliran kelenjar kelopak mata. Cairan air mata buatan atau minyak pelembut disarankan pada beberapa kasus. Jika pasien menggunakan lensa kontak, sebaiknya disarankan untuk menghentikan pemakaiannya terlebih dahulu selama proses pengobatan. Blefaritis tidak dapat disembuhkan secara sempurna meski pengobatan telah berhasil, kemungkinan kembali terserang penyakit ini sangat mungkin terjadi.

 

  1. 10.  Komplikasi

            Komplikasi yang berat karena lefaritis jarang terjadi. Komplikasi yang paling sering terjadi pada pasien yang menggunakan lensa kontak. Mungkin sebaiknya disarankan untuk sementara waktu menggunakan alat bantu lain seperti kaca mata sampai gejala blefaritis hilang.

  • Syndrome mata kering adalah komplikasi yang paling sering terjadi pada blefaritis. Syndrome mata kering (keratokonjungtivis sica) adalah kondisi dimana mata pasien tidak bisa memproduksi air mata yang cukup, atau air mata menguap terlalu cepat. Ini bisa menyebabkan mata kekurangan air dan menjadi meradang. Syndrome ini dapat terjadi karena dipengaruhi gejala blefaritis, dermatitis seboroik, dan dermatitis rosea, namun dapat juga disebabkan karena kualitas air mata yang kurang baik.

 

 

            Gejalanya ditandai dengan nyeri atau kering, sekitar mata, dan ada yang mengganjal di dalam mata dengan penglihatan yang buram. Semua gejala tersebut dapat dihilangkan dengan menggunakan obat tetes mata yang mengandung cairan yang dibuat untuk bisa menggantikan air mata.

 

  • Konjungtivitis adalah peradangan pada mata. Ini terjadi ketika ada bakteri didalam kelopak mata. Kondisi ini menyebabkan efek buruk pada penglihatan. Pada banyak kasus konjungtivitis akan hilang setelah dua atau tiga minggu tanpa perlu pengobatan. Antibiotik berupa obat tetes mata disarankan untuk mengurangi gejala, atau untuk menghindari infeksi berulang. Akan tetapi, pada beberapa kasus masih didapatkan bahwa penggunaan antibiotik tetes tidak lebih cepat memperbaiki kondisi dibanding dengan menunggu sampai kondisi itu kembali lagi tanpa pengobatan apapun.

 

  • Kista meibom adalah pembengkakan yang terjadi pada kelopak mata. Ini bisa terjadi ketika salah satu kelenjar meibom meradang da menyebabkan blefaritis. Kista umumnya tapa rasa sakit, kecuali jika disertai dengan infeksi, yang memerlukan antibiotik. Penggunaan kompres hangat untuk kista bisa membuat kista mengecil, akan tetapi kista itu sering menghilang dengan sendirinya. Jika kista tetap ada, ini dapat dihilangkan dengan bedah sederhana dengan anastesi lokal. 

 

  • Bintil pada kelopak mata adalah bintil pada  kelopak mata ini merupakan benjolan yang nyeri yang terbentuk di luar kelopak mata. Ini disebabkan karena infeksi bakteri pada folikel bulu mata ( yang berlokasi di dasar bulu mata). Pada kasus ringan bisa disembuhkan dengan kompres hangat pada daerah sekitar bintil. Namun, pada kasus yang berat perlu diberikan antibiotik salep dan tablet.

 

 

  1. B.     Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
    1. 1.      Pengkajian
  • Data Subjektif

ü  Orang dengan radang mata dapat mengeluh gatal-gatal

ü  Nyeri (ringan sampai berat) pada kelopak mata

ü  Lakrimasi (mata selalu berair)

ü  Sensitif terhadap cahaya (fotopobia)

ü  Kejang kelopak mata (blepharospasme)

ü  Gelisah akibat gatal-gatal/nyeri

ü  Penderita merasa ada sesuatu di matanya

ü  Malu dan kurang percaya diri akibat efek dari penyakitnya (bulu mata rotok dan tidak terganti)

ü  Pandangan mata kabur dan ketajaman penglihatan menurun

 

 

 

 

 

 

  • Data objektif

ü  Kemerahan

ü  Edema kelopak mata

ü  Pengeluaran pus

ü  Kelopak mata dapat menjadi rapat ketika tidur

 

  1. 2.      Diagnosa Keperawatan

 

  • Nyeri b.d  inflamasi akibat infeksi bakteri.
  • Ansietas b.d gangguan penglihatan, kerusakan kelopak mata .
  • Resiko tinggi injury b.d defisif pengetahuan.
  • Defisit pengetahuan b.d kurang informasi tentang penyakit.
  • Resiko tinggi infeksi b.d prosedur invasif.

 

  1. 3.      Intervensi
  • Nyeri b.d inflamasi akibat infeksi bakteri

Tujuan : nyeri hilang atau berkurang

Kriteria hasil:

  • Klien mendemonstrasikan pengetahuan akan penilaian pengontrolan nyeri
  • Klien mengatakan nyeri berkurang/ hilang
  • Ekspresi  wajah rileks

Intervensi :

  • Kaji skala nyeri.

            Rasional : mengetahui tingkat nyeri.

  • Jaga kebersihan pinggiran kelopak mata.

            Rasional : mempercepat kesembuhan.

  • Anjurkan istirahat di tempat tidur dalam ruangan yang tenang.

            Rasional : memberi kenyamanan kepada klien.

  • Alihkan perhatian pada hal-hal yang menyenangkan.

            Rasional : mengalihkan perhatian terhadap nyeri.

  • Kolaborasi dalam pemberian antibiotic dan analgesic.

            Rasional : menghilangkan nyeri dan membantu penyembuhan.

  • Ansietas b.d gangguan penglihatan, kerusakan kelopak mata.

Tujuan : cemas hilang atau berkurang

Kriteria hasil :

  • Klien tampak relaks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatasi
  • Klien menunjukkan keterampilan menyelesaikan masalah
  • Klien menggunakan sumber secara efektif

Intervensi :

  • Kaji penyebab ansietas.

            Rasional : mengetahui penyebab ansietas.

 

 

 

 

 

  • Kaji tingkat ansietas.

            Rasional : mengetahui tingkat ansietas.

  • Jelaskan diagnosis & rencana penanganan.

            Rasional  : mengurangi ansietas.

  • Berikan informasi seputar blepharitis.

            Rasional : menambah pengetahuan tentang penyakit blepharitis.

  • Dorong pasien untuk mengakui dan mengekspresikan perasaan.

Rasional : mengurangi tingkat ansietas

 

  • Resiko tinggi injuri b.d defisit pengetahuan

Tujuan : resiko injuri teratasi

Kriteria hasil :

  • Klien mampu menjaga dan merawat matanya.
  • Klien mampu melihat dengan jelas

Intervensi :

  • Bantu klien dalam melakukan aktivitas.

            Rasional : mencegah injuri.

  • Beri pencahayaan yang cukup.

            Rasional : mempermudah klien melakukan aktivitas.

  • Jauhkan penyebab terjadinya injuri.

            Rasional : menjaga keselamatan klien.

  • Berikan informasi seputar blepharitis.

            Rasional : menambah pengetahuan tentang penyakit blepharitis.

  • Dorong pasien untuk mengakui dan mengekspresikan perasaan.

            Rasional : mengurangi tingkat ansietas

 

  • Defisit pengetahuan b.d kurang informasi tentang penyakit

Tujuan : klien mengetahui tentang penyakit yang dialaminya

Kriteria hasil :

  • Klien mengatakan pemahaman kondisi, prognosis, dan pengobatan.
  • Mengidentifikasi hubungan antar gejala atau tanda dengan proses penyakit
  • Melakukan prosedur dengan benar dan menjelaskan alasan tindakan.

Intervensi :

  • Diskusikan perlunya pengetahuan tentang penyakit.

            Rasional : menambah pengetahuan penyakit blepharitis.

  • Tunjukkan tehnik yang benar pemberian obat tetes mata.

            Rasional : klien menjadi tahu cara pemberian obat tetes mata dengan benar.

  • Izinkan pasien mengulang tindakan.

            Rasional : menambah kemahiran klien.

  • Kaji pentingnya mempertahankan jadwal obat, contoh tetes mata.

            Rasional : membantu mempercepat kesembuhan.

  • Dorong pasien membuat perubahan yang perlu untuk pola hidup.

            Rasional : mencegah berulangnya penyakit blepharitis.

  • Beri informasi seputar penyakit blepharitis.

            Rasional : meningkatkan pengetahuan klien.

 

  • Resiko tinggi infeksi b.d prosedur invasif.

Tujuan : meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu,bebas drainase purulen, eritema, dan demam.

Kriteria hasil : mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau

                                 menurunkan risiko infeksi.

Intervensi :

  • Observasi tanda terjadinya infeksi

            Rasional : infeksi mata terjadi 2 – 3 hari setelah proseddur dan memerlukan upaya intervensi.

  • Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh/ mengobati mata.

            Rasional : menurunkan jumlah bakteri pada tangan.

  • Gunakan teknik yang tepat untuk membersihkan mata dari dalam keluar dengan tisu basah untuk tiap usapan.

            Rasional : teknik aseptik menurunkan resiko penyebab bakteri.

  • Tekankan pentingnya tidak menyentuh/ menggaruk mata yang dioperasi.

            Rasional : mencegah kontaminasi dan kerusakan sisi operasi

  • Kolaborasi dalam pemberian obat steroid sesuai indikasi.

            Rasional : digunakan untuk menurunkan inflamasi.

 

  1. 4.      Implementasi

            Pelaksanaan adalah tahap yang menggunakan rencana keperawatan dalam melakukan tindakan keperawatan. definisi secara umum, implementasi mencakup tindakan penyerahan tindakan dan pencatatan. perawat harus memperhatikan atau tertuju pada pengembangan dari langkah rencana keperawatan yang telah dibuat, kemudian selanjutnya melakukan tindakan yang dicatat dalam aktivitas perawat dan memperhatikan respon klien (Kozier, et. all, 2000).

            Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping (Nursalam, 2001).

 

  1. 5.      Evaluasi

            Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan. Evaluasi adalah tindakan yang terus menerus, bertujuan untuk menentukan kemampuan klien dan keperawatan kesehatan profesional yaitu menunjukkan peningkatan kearah tujuan yang hendak dicapai pada klien dan keefektifan rencana keperawatan. Evaluasi merupakan aspek yang penting karena memberikan kesimpulan proses akhir apakah intervensi dihentikan, diteruskan, atau perlu rencana / intervensi baru (Kozier, et. all,  2000).

            Hasil evaluasi yang diharapkan setelah diberikan asuhan keperawatan pada klien dengan blepharitis yaitu :

1.      Tidak ada keluhan nyeri lagi

2.      Klien merasa nyaman

3.      Kecemasan klien berkurang atau hilang

4.      Klien mengetahui informasi tentang blepharitis

5.      Klien mampu menjaga dan merawat matanya

 

 

 

BAB III

PENUTUP

            1.Kesimpulan

            Blefaritis adalah peradangan pada kelopak mata yang ditandai dengan kelopak mata yang berminyak. Disebabkan karena bakteri jamur dan virus atau juga karena gangguan aliran kelenjar meibom pada kelopak mata. Blefaritis memberikan gejala mata merah, berair dan nyeri, serta rontoknya bulu mata. Blefaritis sebenarnya bisa hilang tanpa pengobatan, karena prinsip utama pengobatan blefaritis adalah kebersihan kelopak mata, namun untuk membantu mempercepat penyembuhan biasanya diberikan theraphy khusus sesuai dengan penyebab dari blefaritis tersebut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Barbara C. Long. 1996. Perawatan Medikal Bedah 2. Padjajaran Bandung; Bandung.

 

Istiqomah, dkk. 2004. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Mata. EGC; Jakarta.

 

Radjamin, Tamin. 1984. Ilmu Penyakit Mata. Airlangga University : Surabaya.

 

ASKEP MUSKULOSKELETAL

SKEP MUSKULOSKELETAL

A. Latar belakang
Perubahan – perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan makin meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh.
Keadaan demikian itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal dan jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya beberapa golongan reumatik. Salah satu golongan penyakit reumatik yang sering menyertai usia lanjut yang menimbulkan gangguan muskuloskeletal terutama adalah osteoartritis. Kejadian penyakit tersebut akan makin meningkat sejalan dengan meningkatnya usia manusia.
Reumatik dapat mengakibatkan perubahan otot, hingga fungsinya dapat menurun bila otot pada bagian yang menderita tidak dilatih guna mengaktifkan fungsi otot. Dengan meningkatnya usia menjadi tua fungsi otot dapat dilatih dengan baik. Namun usia lanjut tidak selalu mengalami atau menderita reumatik. Bagaimana timbulnya kejadian reumatik ini, sampai sekarang belum sepenuhnya dapat dimengerti.
Reumatik bukan merupakan suatu penyakit, tapi merupakan suatu sindrom dan.golongan penyakit yang menampilkan perwujudan sindroma reumatik cukup banyak, namun semuanya menunjukkan adanya persamaan ciri. Menurut kesepakatan para ahli di bidang rematologi, reumatik dapat terungkap sebagai keluhan dan/atau tanda. Dari kesepakatan, dinyatakan ada tiga keluhan utama pada sistem muskuloskeletal yaitu: nyeri, kekakuan (rasa kaku) dan kelemahan, serta adanya tiga tanda utama yaitu: pembengkakan sendi., kelemahan otot, dan gangguan gerak. (Soenarto, 1982)
Reumatik dapat terjadi pada semua umur dari kanak – kanak sampai usia lanjut, atau sebagai kelanjutan sebelum usia lanjut. Dan gangguan reumatik akan meningkat dengan meningkatnya umur. (Felson, 1993, Soenarto dan Wardoyo, 1994)
Dari berbagai masalah kesehatan itu ternyata gangguan muskuloskeletal menempati urutan kedua 14,5% setelah penyakit kardiovaskuler dalam pola penyakit masyarakat usia >55 tahun (Household Survey on Health, Dept. Of Health, 1996). Dan berdasarkan survey WHO di Jawa ditemukan bahwa artritis/reumatisme menempati urutan pertama (49%) dari pola penyakit lansia (Boedhi Darmojo et. al, 1991).
Artritis reumatoid merupakan kasus panjang yang sangat sering diujikan. Bisanya terdapat banyak tanda- tanda fisik. Diagnosa penyakit ini mudah ditegakkan. Tata laksananya sering merupakan masalah utama. Insiden pucak dari artritis reumatoid terjadi pada umur dekade keempat, dan penyakit ini terdapat pada wanita 3 kali lebih sering dari pada laki- laki. Terdapat insiden familial ( HLA DR-4 ditemukan pada 70% pasien ).
Artritis reumatoid diyakini sebagai respon imun terhadap antigen yang tidak diketahui. Stimulusnya dapat virus atau bakterial. Mungkin juga terdapat predisposisi terhadap penyakit.
Berdasarkan hal tersebut kelompok tertarik untuk membahas tentang penyakit rheumatoid artritis dan dapat mengaplikasikan dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien.
B. Tujuan penulisan
1. Tujuan umum
Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem muskuloskeletal yaitu Rheumatoid Artritis
2. Tujuan khusus
Mahasiswa dapat menjelaskan :
1. definisi penyakit Rheumatoid Artritis
2. etiologi penyakit Rheumatoid Artritis
3. manifestasi klinik Rheumatoid Artritis
4. patofisiologi penyakit Rheumatoid Artritis
5. komplikasi penyakit Rheumatoid Artritis
6. pemeriksaan diagnostik penyakit Rheumatoid Artritis
7. penatalaksanaan penyakit Rheumatoid Artritis
8. asuhan keperawatan yang harus diberikan pada klien dengan Rheumatoid Artritis
BAB II
TINJAUAN TEORI
I. KONSEP DASAR RHEUMATOID ARTRITIS
A. PENGERTIAN
Penyakit reumatik adalah penyakit inflamasi non- bakterial yang bersifat sistemik, progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat sendi secara simetris. ( Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi, hal. 165 )
Reumatoid arthritis adalah gangguan autoimun kronik yang menyebabkan proses inflamasi pada sendi (Lemone & Burke, 2001 : 1248).
Reumatik dapat terjadi pada semua jenjang umur dari kanak-kanak sampai usia lanjut. Namun resiko akan meningkat dengan meningkatnya umur (Felson dalam Budi Darmojo, 1999).
Artritis Reumatoid adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi dalam membrane sinovial yang mengarah pada destruksi kartilago sendi dan deformitas lebih lanjut.( Susan Martin Tucker.1998 )
Artritis Reumatoid ( AR ) adalah kelainan inflamasi yang terutama mengenai mengenai membran sinovial dari persendian dan umumnya ditandai dengan dengan nyeri persendian, kaku sendi, penurunan mobilitas, dan keletihan. ( Diane C. Baughman. 2000 )
Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. ( Arif Mansjour. 2001 )
B. ETIOLOGI
Penyebab pasti reumatod arthritis tidak diketahui. Biasanya merupakan kombinasi dari faktor genetic, lingkungan, hormonal dan faktor system reproduksi. Namun faktor pencetus terbesar adalah faktor infeksi seperti bakteri, mikoplasma dan virus (Lemone & Burke, 2001).
Penyebab utama kelainan ini tidak diketahui. Ada beberapa teori yang dikemukakan mengenai penyebab artritis reumatoid, yaitu :
1. Infeksi streptokokus hemolitikus dan streptokokus non-hemolitikus
2. Endokrin
3. Autoimun
4. Metabolik
5. Faktor genetik serta faktor pemicu lainnya.
Pada saat ini, artritis reumatoid diduga disebabkan oleh faktor autoimun dan infeksi. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II; faktor infeksi mungkin disebabkan oleh karena virus dan organisme mikoplasma atau grup difterioid yang menghasilkan antigen tipe II kolagen dari tulang rawan sendi penderit
C. MANIFESTASI KLINIS
Pola karakteristik dari persendian yang terkena
1. Mulai pada persendian kecil ditangan, pergelangan , dan kaki.
2. Secara progresif menenai persendian, lutut, bahu, pinggul, siku, pergelangan kaki, tulang belakang serviks, dan temporomandibular.
3. Awitan biasnya akut, bilateral, dan simetris.
4. Persendian dapat teraba hangat, bengkak, dan nyeri ; kaku pada pagi hari berlangsung selama lebih dari 30 menit.
5. Deformitasi tangan dan kaki adalah hal yang umum.
Gambaran Ekstra-artikular
1. Demam, penurunan berat badan, keletihan, anemia
2. Fenomena Raynaud.
3. Nodulus rheumatoid, tidak nyeri tekan dan dapat bergerak bebas, di temukan pada jaringan subkutan di atas tonjolan tulang.
Rheumatoid arthritis ditandai oleh adanya gejala umum peradangan berupa:
1. demam, lemah tubuh dan pembengkakan sendi.
2. nyeri dan kekakuan sendi yang dirasakan paling parah pada pagi hari.
3. rentang gerak berkurang, timbul deformitas sendi dan kontraktur otot.
4.Pada sekitar 20% penderita rheumatoid artritits muncul nodus rheumatoid ekstrasinovium. Nodus ini Terdiri dari sel darah putih dan sisia sel yang terdapat di daerah trauma atau peningkatan tekanan. Nodus biasanya terbentuk di jaringan subkutis di atas siku dan jari tangan.

D. PATOFISIOLOGI

(klik aja biar keliatan)

E. KOMPLIKASI
Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis dan ulkus peptik yang merupakan komlikasi utama penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit ( disease modifying antirhematoid drugs, DMARD ) yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan mortalitas utama pada arthritis reumatoid.
Komlikasi saraf yang terjadi memberikan gambaran jelas , sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikuler dan lesi neuropatik. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat ketidakstabilan vertebra servikal dan neuropati iskemik akibat vaskulitis.
F. KRITERIA DIAGNOSTIK
Diagnosis arthritis reumatoid tidak bersandar pada satu karakteristik saja tetapi berdasar pada evaluasi dari sekelompok tanda dan gejala.
Kriteria diagnostik adalah sebagai berikut:
1. Kekakuan pagi hari (sekurangnya 1 jam)
2. Arthritis pada tiga atau lebih sendi
3. Arthritis sendi-sendi jari-jari tangan
4. Arthritis yang simetris
5. Nodula reumatoid dan Faktor reumatoid dalam serum
6. Perubahan-perubahan radiologik (erosi atau dekalsifikasi tulang)
Diagnosis artritis reumatoid dikatakan positif apabila sekurang-kurangnya empat dari tujuh kriteria ini terpenuhi. Empat kriteria yang disebutkan terdahulu harus sudah berlangsung sekurang-kurangnya 6 minggu.
G. PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksanaan reumatoid artritis adalah mengurangi nyeri, mengurangi inflamasi, menghentikan kerusakan sendi dan meningkatkan fungsi dan kemampuan mobilisasi penderita (Lemone & Burke, 2001).
Adapun penatalaksanaan umum pada rheumatoid arthritis antara lain :
1. Pemberian terapi
Pengobatan pada rheumatoid arthritis meliputi pemberian aspirin untuk mengurangi nyeri dan proses inflamasi, NSAIDs untuk mengurangi inflamasi, pemberian corticosteroid sistemik untuk memperlambat destruksi sendi dan imunosupressive terapi untuk menghambat proses autoimun.
2. Pengaturan aktivitas dan istirahat
Pada kebanyakan penderita, istirahat secara teratur merupakan hal penting untuk mengurangi gejala penyakit. Pembebatan sendi yang terkena dan pembatasan gerak yang tidak perlu akan sangat membantu dalam mengurangi progresivitas inflamasi. Namun istirahat harus diseimbangkan dengan latihan gerak untuk tetap menjaga kekuatan otot dan pergerakan sendi.
3. Kompres panas dan dingin
Kompres panas dan dingin digunakan untuk mendapatkan efek analgesic dan relaksan otot. Dalam hal ini kompres hangat lebih efektive daripada kompres dingin.
4. Diet
Untuk penderita rheumatoid arthritis disarankan untuk mengatur dietnya. Diet yang disarankan yaitu asam lemak omega-3 yang terdapat dalam minyak ikan.
5. Pembedahan
Pembedahan dilakukan apabila rheumatoid arthritis sudah mencapai tahap akhir. Bentuknya dapat berupa tindakan arhthrodesis untuk menstabilkan sendi, arthoplasty atau total join replacement untuk mengganti sendi.
II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Data dasar pengkajian pasien tergantung padwa keparahan dan keterlibatan organ-organ lainnya ( misalnya mata, jantung, paru-paru, ginjal ), tahapan misalnya eksaserbasi akut atau remisi dan keberadaaan bersama bentuk-bentuk arthritis lainnya.
1. Aktivitas/ istirahat
Gejala : Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stres pada sendi; kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi bilateral dan simetris.
Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang, pekerjaan, keletihan.
Tanda : Malaise
Keterbatasan rentang gerak; atrofi otot, kulit, kontraktor/ kelaianan pada sendi.
2. Kardiovaskuler
Gejala : Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki ( mis: pucat intermitten, sianosis, kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal).
3. Integritas ego
Gejala : Faktor-faktor stres akut/ kronis: mis; finansial, pekerjaan, ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan.
Keputusan dan ketidakberdayaan ( situasi ketidakmampuan )
Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi ( misalnya ketergantungan pada orang lain).
4. Makanan/ cairan
Gejala ; Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/ cairan adekuat: mual, anoreksia
Kesulitan untuk mengunyah
Tanda : Penurunan berat badan
Kekeringan pada membran mukosa.
5. Hygiene
Gejala : Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi. Ketergantungan
6. Neurosensori
Gejala : Kebas, semutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan.
Gejala : Pembengkakan sendi simetris
7. Nyeri/ kenyamanan
Gejala : Fase akut dari nyeri ( mungkin tidak disertai oleh pembengkakan jaringan lunak pada sendi ).
8. Keamanan
Gejala : Kulit mengkilat, tegang, nodul subkutan, Lesi kulit, ulkus kaki. Kesulitan dalam ringan dalam menangani tugas/ pemeliharaan rumah tangga. Demam ringan menetap Kekeringan pada mata dan membran mukosa.
9. Interaksi sosial
Gejala : Kerusakan interaksi sosial dengan keluarga/ orang lain; perubahan peran; isolasi.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut/kronis berhubungkan dengan : agen pencedera; distensi jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.
2. Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: Deformitas skeletal
Nyeri, ketidaknyamanan, Intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan otot.
3. Gangguan citra tubuh./perubahan penampilan peran berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas
4. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal; penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi.
5. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan kurangnya pemahaman/ mengingat,kesalahan interpretasi informasi
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Nyeri akut/kronis berhubungkan dengan : agen pencedera; distensi jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.
Kriteria Hasil:
– Menunjukkan nyeri hilang/ terkontrol,
– Terlihat rileks, dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan.
– Mengikuti program farmakologis yang diresepkan,
– Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan ke dalam program kontrol nyeri.
Intervensi dan Rasional:.
a. Kaji nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0-10). Catat faktor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal
R/ Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan program
b. Berikan matras/ kasur keras, bantal kecil,. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan
R/Matras yang lembut/ empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress pada sendi yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada sendi yang terinflamasi/nyeri
c. Tempatkan/ pantau penggunaan bantl, karung pasir, gulungan trokhanter, bebat, brace. (R/ Mengistirahatkan sendi-sendi yang sakit dan mempertahankan posisi netral. Penggunaan brace dapat menurunkan nyeri dan dapat mengurangi kerusakan pada sendi)
d. Dorong untuk sering mengubah posisi,. Bantu untuk bergerak di tempat tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan bawah, hindari gerakan yang menyentak. (R/ Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi, mengurangi gerakan/ rasa sakit pada sendi)
e. Anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran pada waktu bangun dan/atau pada waktu tidur. Sediakan waslap hangat untuk mengompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari. Pantau suhu air kompres, air mandi, dan sebagainya. (R/ Panas meningkatkan relaksasi otot, dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan melepaskan kekakuan di pagi hari. Sensitivitas pada panas dapat dihilangkan dan luka dermal dapat disembuhkan)
f. Berikan masase yang lembut (R/meningkatkan relaksasi/ mengurangi nyeri)
g. Dorong penggunaan teknik manajemen stres, misalnya relaksasi progresif,sentuhan terapeutik, biofeed back, visualisasi, pedoman imajinasi, hypnosis diri, dan pengendalian napas. (R/ Meningkatkan relaksasi, memberikan rasa kontrol dan mungkin meningkatkan kemampuan koping)
h. Libatkan dalam aktivitas hiburan yang sesuai untuk situasi individu. (R/ Memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi, dan meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat)
i. Beri obat sebelum aktivitas/ latihan yang direncanakan sesuai petunjuk. (R/ Meningkatkan realaksasi, mengurangi tegangan otot/ spasme, memudahkan untuk ikut serta dalam terapi)
j. Kolaborasi: Berikan obat-obatan sesuai petunjuk (mis:asetil salisilat) (R/ sebagai anti inflamasi dan efek analgesik ringan dalam mengurangi kekakuan dan meningkatkan mobilitas.)
k. Berikan es kompres dingin jika dibutuhkan (R/ Rasa dingin dapat menghilangkan nyeri dan bengkak selama periode akut)
2. Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: Deformitas skeletal
Nyeri, ketidaknyamanan, Intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan otot.
Kriteria Hasil :
– Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya/ pembatasan kontraktur.
– Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari dan/ atau konpensasi bagian tubuh.
– Mendemonstrasikan tehnik/ perilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas

Intervensi dan Rasional:.
a. Evaluasi/ lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi/ rasa sakit pada sendi (R/ Tingkat aktivitas/ latihan tergantung dari perkembangan/ resolusi dari peoses inflamasi)
b. Pertahankan istirahat tirah baring/ duduk jika diperlukan jadwal aktivitas untuk memberikan periode istirahat yang terus menerus dan tidur malam hari yang tidak terganmggu.(R/ Istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut dan seluruh fase penyakit yang penting untuk mencegah kelelahan mempertahankan kekuatan)
c. Bantu dengan rentang gerak aktif/pasif, demikiqan juga latihan resistif dan isometris jika memungkinkan (R/ Mempertahankan/ meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum. Catatan : latihan tidak adekuat menimbulkan kekakuan sendi, karenanya aktivitas yang berlebihan dapat merusak sendi)
d. Ubah posisi dengan sering dengan jumlah personel cukup. Demonstrasikan/ bantu tehnik pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas, mis, trapeze (R/ Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi. Memepermudah perawatan diri dan kemandirian pasien. Tehnik pemindahan yang tepat dapat mencegah robekan abrasi kulit)
e. Posisikan dengan bantal, kantung pasir, gulungan trokanter, bebat, brace (R/ Meningkatkan stabilitas ( mengurangi resiko cidera ) dan memerptahankan posisi sendi yang diperlukan dan kesejajaran tubuh, mengurangi kontraktor)
f. Gunakan bantal kecil/tipis di bawah leher. (R/ Mencegah fleksi leher)
g. Dorong pasien mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri, dan berjalan (R/ Memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan mobilitas)
h. Berikan lingkungan yang aman, misalnya menaikkan kursi, menggunakan pegangan tangga pada toilet, penggunaan kursi roda. (R/ Menghindari cidera akibat kecelakaan/ jatuh)
i. Kolaborasi: konsul dengan fisoterapi. (R/ Berguna dalam memformulasikan program latihan/ aktivitas yang berdasarkan pada kebutuhan individual dan dalam mengidentifikasikan alat)
j. Kolaborasi: Berikan matras busa/ pengubah tekanan. (R/ Menurunkan tekanan pada jaringan yang mudah pecah untuk mengurangi risiko imobilitas)
k. Kolaborasi: berikan obat-obatan sesuai indikasi (steroid). (R/ Mungkin dibutuhkan untuk menekan sistem inflamasi akut)
3. Gangguan citra tubuh./perubahan penampilan peran berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas.
Kriteria Hasil :
– Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk menghadapi penyakit, perubahan pada gaya hidup, dan kemungkinan keterbatasan.
– Menyusun rencana realistis untuk masa depan.
Intervensi dan Rasional:
a. Dorong pengungkapan mengenai masalah tentang proses penyakit, harapan masa depan. (R/Berikan kesempatan untuk mengidentifikasi rasa takut/ kesalahan konsep dan menghadapinya secara langsung)
b. Diskeusikan arti dari kehilangan/ perubahan pada pasien/orang terdekat. Memastikan bagaimana pandangaqn pribadi pasien dalam memfungsikan gaya hidup sehari-hari, termasuk aspek-aspek seksual. (R/Mengidentifikasi bagaimana penyakit mempengaruhi persepsi diri dan interaksi dengan orang lain akan menentukan kebutuhan terhadap intervensi/ konseling lebih lanjut)
c. Diskusikan persepsi pasienmengenai bagaimana orang terdekat menerima keterbatasan. (R/ Isyarat verbal/non verbal orang terdekat dapat mempunyai pengaruh mayor pada bagaimana pasien memandang dirinya sendiri)
d. Akui dan terima perasaan berduka, bermusuhan, ketergantungan. (R/ Nyeri konstan akan melelahkan, dan perasaan marah dan bermusuhan umum terjadi)
e. Perhatikan perilaku menarik diri, penggunaan menyangkal atau terlalu memperhatikan perubahan. (R/ Dapat menunjukkan emosional ataupun metode koping maladaptive, membutuhkan intervensi lebih lanjut)
f. Susun batasan pada perilaku mal adaptif. Bantu pasien untuk mengidentifikasi perilaku positif yang dapat membantu koping. (R/ Membantu pasien untuk mempertahankan kontrol diri, yang dapat meningkatkan perasaan harga diri)
g. Ikut sertakan pasien dalam merencanakan perawatan dan membuat jadwal aktivitas. (Meningkatkan perasaan harga diri, mendorong kemandirian, dan mendorong berpartisipasi dalam terapi)
h. Bantu dalam kebutuhan perawatan yang diperlukan.(R/ Mempertahankan penampilan yang dapat meningkatkan citra diri)
i. Berikan bantuan positif bila perlu. (R/ Memungkinkan pasien untuk merasa senang terhadap dirinya sendiri. Menguatkan perilaku positif. Meningkatkan rasa percaya diri)
j. Kolaborasi: Rujuk pada konseling psikiatri, mis: perawat spesialis psikiatri, psikolog. (R/ Pasien/orang terdekat mungkin membutuhkan dukungan selama berhadapan dengan proses jangka panjang/ ketidakmampuan)
k. Kolaborasi: Berikan obat-obatan sesuai petunjuk, mis; anti ansietas dan obat-obatan peningkat alam perasaan. (R/ Mungkin dibutuhkan pada sat munculnya depresi hebat sampai pasien mengembangkan kemapuan koping yang lebih efektif
4. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal; penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi.
Kriteria Hasil :
– Melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten dengan kemampuan individual.
– Mendemonstrasikan perubahan teknik/ gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.
– Mengidentifikasi sumber-sumber pribadi/ komunitas yang dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri.
Intervensi dan Rasional:
a. Diskusikan tingkat fungsi umum (0-4) sebelum timbul awitan/ eksaserbasi penyakit dan potensial perubahan yang sekarang diantisipasi. (R/ Mungkin dapat melanjutkan aktivitas umum dengan melakukan adaptasi yang diperlukan pada keterbatasan saat ini).
b.Pertahankan mobilitas, kontrol terhadap nyeri dan program latihan. (R/ Mendukung kemandirian fisik/emosional)
c. Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam perawatan diri. Identifikasi /rencana untuk modifikasi lingkungan. (R/ Menyiapkan untuk meningkatkan kemandirian, yang akan meningkatkan harga diri)
d.Kolaborasi: Konsul dengan ahli terapi okupasi. (R/ Berguna untuk menentukan alat bantu untuk memenuhi kebutuhan individual. Mis; memasang kancing, menggunakan alat bantu memakai sepatu, menggantungkan pegangan untuk mandi pancuran)
e. Kolaborasi: Atur evaluasi kesehatan di rumah sebelum pemulangan dengan evaluasi setelahnya. (R/ Mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin dihadapi karena tingkat kemampuan aktual)
f. Kolaborasi : atur konsul dengan lembaga lainnya, mis: pelayanan perawatan rumah, ahli nutrisi. (R/ Mungkin membutuhkan berbagai bantuan tambahan untuk persiapan situasi di rumah)
5. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan kurangnya pemahaman/ mengingat,kesalahan interpretasi informasi.
Kriteria Hasil :
– Menunjukkan pemahaman tentang kondisi/ prognosis, perawatan.
– Mengembangkan rencana untuk perawatan diri, termasuk modifikasi gaya hidup yang konsisten dengan mobilitas dan atau pembatasan aktivitas.
Intervensi dan Rasional:
a. Tinjau proses penyakit, prognosis, dan harapan masa depan. (R/ Memberikan pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi)
b. Diskusikan kebiasaan pasien dalam penatalaksanaan proses sakit melalui diet,obat-obatan, dan program diet seimbang, l;atihan dan istirahat.(R/ Tujuan kontrol penyakit adalah untuk menekan inflamasi sendiri/ jaringan lain untuk mempertahankan fungsi sendi dan mencegah deformitas)
c. Bantu dalam merencanakan jadwal aktivitas terintegrasi yang realistis,istirahat, perawatan pribadi, pemberian obat-obatan, terapi fisik, dan manajemen stres. (R/ Memberikan struktur dan mengurangi ansietas pada waktu menangani proses penyakit kronis kompleks)
d. Tekankan pentingnya melanjutkan manajemen farmakoterapeutik. (R/ Keuntungan dari terapi obat-obatan tergantung pada ketepatan dosis)
e. Anjurkan mencerna obat-obatan dengan makanan, susu, atau antasida pada waktu tidur. (R/ Membatasi irigasi gaster, pengurangan nyeri pada HS akan meningkatkan tidur dan m,engurangi kekakuan di pagi hari)
f. Identifikasi efek samping obat-obatan yang merugikan, mis: tinitus, perdarahan gastrointestinal, dan ruam purpuruik. (R/ Memperpanjang dan memaksimalkan dosis aspirin dapat mengakibatkan takar lajak. Tinitus umumnya mengindikasikan kadar terapeutik darah yang tinggi)
g. Tekankan pentingnya membaca label produk dan mengurangi penggunaan obat-obat yang dijual bebas tanpa persetujuan dokter. (R/ Banyak produk mengandung salisilat tersembunyi yang dapat meningkatkan risiko takar layak obat/ efek samping yang berbahaya)
h. Tinjau pentingnya diet yang seimbang dengan makanan yang banyak mengandung vitamin, protein dan zat besi. (R/ Meningkatkan perasaan sehat umum dan perbaikan jaringan)
i. Dorong pasien obesitas untuk menurunkan berat badan dan berikan informasi penurunan berat badan sesuai kebutuhan. (R/ Pengurangan berat badan akan mengurangi tekanan pada sendi, terutama pinggul, lutut, pergelangan kaki, telapak kaki)
j. Berikan informasi mengenai alat bantu (R/ Mengurangi paksaan untuk menggunakan sendi dan memungkinkan individu untuk ikut serta secara lebih nyaman dalam aktivitas yang dibutuhkan)
k. Diskusikan tekinik menghemat energi, mis: duduk daripada berdiri untuk mempersiapkan makanan dan mandi (R/ Mencegah kepenatan, memberikan kemudahan perawatan diri, dan kemandirian)
l. Dorong mempertahankan posisi tubuh yang benar baik pada sat istirahat maupun pada waktu melakukan aktivitas, misalnya menjaga agar sendi tetap meregang , tidak fleksi, menggunakan bebat untuk periode yang ditentukan, menempatkan tangan dekat pada pusat tubuh selama menggunakan, dan bergeser daripada mengangkat benda jika memungkinkan. ( R: mekanika tubuh yang baik harus menjadi bagian dari gaya hidup pasien untuk mengurangi tekanan sendi dan nyeri ).
m. Tinjau perlunya inspeksi sering pada kulit dan perawatan kulit lainnya dibawah bebat, gips, alat penyokong. Tunjukkan pemberian bantalan yang tepat. ( R: mengurangi resiko iritasi/ kerusakan kulit )
n. Diskusikan pentingnya obat obatan lanjutan/ pemeriksaan laboratorium, mis: LED, Kadar salisilat, PT. ( R; Terapi obat obatan membutuhkan pengkajian/ perbaikan yang terus menerus untuk menjamin efek optimal dan mencegah takar lajak, efek samping yang berbahaya.
o. Berikan konseling seksual sesuai kebutuhan ( R: Informasi mengenai posisi-posisi yang berbeda dan tehnik atau pilihan lain untuk pemenuhan seksual mungkin dapat meningkatkan hubungan pribadi dan perasaan harga diri/ percaya diri.).
p. Identifikasi sumber-sumber komunitas, mis: yayasan arthritis ( bila ada). (R: bantuan/ dukungan dari oranmg lain untuk meningkatkan pemulihan maksimal).
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Penyakit reumatik adalah kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan dengan usia lanjut. Secara klinis ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran sendi, dan hambatan gerak pada sendi – sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban.
Artritis rematoid adalah merupakan penyakit inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. Terlibatnya sendi pada pasien artritis rematoid terjadi setelah penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progresifitasnya. Pasien dapat juga menunjukkan gejala berupa kelemahan umum cepat lelah.
B. SARAN
Pada kesempatan ini penulis akan mengemukakan beberapa saran sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi usaha peningkatan mutu pelayanan asuhan keperawatan yang akan datang, diantaranya :
1. Dalam melakukan asuhan keperawatan, perawat mengetahui atau mengerti tentang rencana keperawatan pada pasien dengan rheumatoid artritis, pendokumentasian harus jelas dan dapat menjalin hubungan yang baik dengan klien dan keluarga.
2. Dalam rangka mengatasi masalah resiko injuri pada klien dengan rheumatoid artritis maka tugas perawat yang utama adalah sering mengobservasi akan kebutuhan klien yang mengalami rheumatoid artritis.
3. Untuk perawat diharapkan mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan keluarga sehingga keluarga diharapkan mampu membantu dan memotivasi klien dalam proses penyembuhan.

ASKEP ISPA PADA ANAK

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN GANGGUAN ISPA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) di negara berkembang masih merupakan masalah kesehatan yang menonjol, terutama pada anak. Penyakit ini pada anak merupakan penyebab kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) yang tinggi. Angka kematian ISPA di negara maju berkisar antara 10 -15 %, sedangkan di negara berkembang lebih besar lagi.
Di Indonesia angka kematian ISPA diperkirakan mencapai 20 %.
Hingga saat ini salah satu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat adalah ISPA
(Infeksi Saluran Pernapasan Akut) .ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting
karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4
kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap
tahunnya. 40 % -60 % dari kunjungan di puskesmas adalah oleh penyakit ISPA
(Anonim,2009)
B. Tujuan Penulisan
Tujuan umum
Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Pada anak dengan diare.
Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui Pengkajian pada anak dengan diare
2. Untuk mengetahui Diagnosa keperawatan pada anak dengan diare
3. Untuk mengetahui Intervensi keperawatan pada anak dengan diare
4. Untuk mengetahui Implementasi keperawatan pada anak dengan diare
5. Untuk mengetahui Evaluasi keperawatan pada anak dengan diare

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Dasar Penyakit
1. Pengertian
ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung sampai gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru
Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak akan menderita pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibat kematian.
Program Pemberantasan Penyakit ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu pneumonia dan yang bukan pneumonia. Pneumonia dibagi atas derajat beratnya penyakit yaitu pneumonia berat dan pneumonia tidak berat. Penyakit batuk pilek seperti rinitis, faringitis, tonsilitis dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan pneumonia. Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan pada balita. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin, semua radang telinga akut harus mendapat antibiotik (Rasmaliah, 2004)
2. Etiologi
Etiologi ISPA lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan jamur. Bakteri penyebabnya antara lain dari genus streptokokus, stafilokokus, pnemokokus, hemofilus, bordetella, dan korinebacterium. Virus penyebabnya antara lain golongan mikovirus, adenovirus, koronavirus, pikornavirus, mikoplasma, herpesvirus.
Bakteri dan virus yang paling sering menjadi penyebab ISPA diantaranya bakteri stafilokokus dan streptokokus serta virus influenza yang di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung.
Biasanya bakteri dan virus tersebut menyerang anak-anak usia dibawah 2 tahun yang kekebalan tubuhnya lemah atau belum sempurna. Peralihan musim kemarau ke musim hujan juga menimbulkan risiko serangan ISPA.
Beberapa faktor lain yang diperkirakan berkontribusi terhadap kejadian ISPA pada anak adalah rendahnya asupan antioksidan, status gizi kurang, dan buruknya sanitasi lingkungan.

3. Patofisiologi
Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 3 tahap yaitu :
• Tahap prepatogenesis : penyuebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi apa-apa
• Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah.
• Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul gejala demam dan batuk. Tahap lanjut penyaklit,dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh sempurna, sembuh dengan atelektasis,menjadi kronos dan meninggal akibat pneumonia.
Saluran pernafasan selama hidup selalu terpapar dengan dunia luar sehingga untuk mengatasinya dibutuhkan suatu sistem pertahanan yang efektif dan efisien. Ketahanan saluran pernafasan tehadap infeksi maupun partikel dan gas yang ada di udara amat tergantung pada tiga unsur alami yang selalu terdapat pada orang sehat yaitu keutuhan epitel mukosa dan gerak mukosilia, makrofag alveoli, dan antibodi.
Infeksi bakteri mudah terjadi pada saluran nafas yang sel-sel epitel mukosanya telah rusak akibat infeksi yang terdahulu. Selain hal itu, hal-hal yang dapat mengganggu keutuhan lapisan mukosa dan gerak silia adalah asap rokok dan gas SO2 (polutan utama dalam pencemaran udara), sindroma imotil, pengobatan dengan O2 konsentrasi tinggi (25 % atau lebih).
4. Penatalaksanaan
Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan kasus yang benar merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan program (turunnya kematian karena pneumonia dan turunnya penggunaan antibiotik dan obat batuk yang kurang tepat pada pengobatan penyakit ISPA) .
Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan antibiotik untuk kasus-kasus batuk pilek biasa, serta mengurangi penggunaan obat batuk yang kurang bermanfaat. Strategi penatalaksanaan kasus mencakup pula petunjuk tentang pemberian makanan dan minuman sebagai bagian dari tindakan penunjang yang penting bagi pederita ISPA.
Pencegahan dapat dilakukan dengan :
• Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
• Immunisasi.
• Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan.
• Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.
Prinsip perawatan ISPA antara lain :
• Menigkatkan istirahat minimal 8 jam perhari
• Meningkatkan makanan bergizi
• Bila demam beri kompres dan banyak minum
• Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan sapu tangan yang bersih
• Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak terlalu ketat.
• Bila terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila anak tersebut masih menetek
Pengobatan antara lain :
• Suportif : meningkatkan daya tahan tubuh berupa Nutrisi yang adekuat,pemberian multivitamin dll.
• Antibiotik :
 Idealnya berdasarkan jenis kuman penyebab
 Utama ditujukan pada S.pneumonia,H.Influensa dan S.Aureus
 Menurut WHO : Pneumonia rawat jalan yaitu kotrimoksasol, Amoksisillin, Ampisillin, Penisillin Prokain,Pnemonia berat : Benzil penicillin, klorampenikol, kloksasilin, gentamisin.
 Antibiotik baru lain : Sefalosforin,quinolon dll.
5. Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis ISPA oleh karena virus dapat ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium terhadap jasad renik itu sendiri. Pemeriksaan yang dilakukan adalah biakan virus, serologis, diagnostik virus secara langsung.Sedangkan diagnosis ISPA oleh karena bakteri dilakukan dengan pemeriksaan sputum, biakan darah, biakan cairan pleura.

B. Asuhan Keperawatan Ispa
1. Pengkajian
A. Identitas Pasien
Nama : Gilang
Umur : 4 bulan
Jenis kelamin : laki-laki
Alamat : Jalan Merpati 1
Tanggal Masuk : 23 oktober 2010
Diagnosa medis : ISPA
Nama Ayah : T.indra
Umur :35 tahun
Pekerjaan : wiraswasta
Pendidikan : SMA
Suku bangsa : sunda
Alamat : Jalan Merpati 1
Nama Ibu : Bu fitri
Umur : 31 tahun
Pekerjaan : wiraswasta
Pendidikan : SMA
Suku bangsa : sunda
Alamat : Jalan Merpati 1
2. Keluhan Utama:
Klien mengeluh demam
3. Riwayat penyakit sekarang
Dua hari sebelumnya klien mengalami demam mendadak, sakit kepala, badan lemah, nyeri otot dan sendi, nafsu makan menurun, batuk,pilek dan sakit tenggorokan.
4. Riwayat penyakit dahulu
Klien sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit sekarang
5. Riwayat penyakit keluarga
Menurut anggota keluarga ada juga yang pernah mengalami sakit seperti penyakit klien tersebut.
6. Riwayat sosial
Klien mengatakan bahwa klien tinggal di lingkungan yang berdebu dan padat penduduknya
7. Pemeriksaan Fisik Difokuskan Pada Pengkajian Sistem Pernafasan
 Inspeksi
• Membran mukosa hidung-faring tampak kemerahan
• Tonsil tampak kemerahan dan edema
• Tampak batuk tidak produktif
• Tidak ada jaringan parut pada leher
• Tidak tampak penggunaan otot-otot pernafasan tambahan, pernafasan cuping hidung.
 Palpasi
• Adanya demam
• Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher/nyeri tekan pada nodus limfe servikalis
• Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid
 Perkusi
• Suara paru normal (resonance)
 Auskultasi
• Suara nafas vesikuler/tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru.
8. Diagnosa Keperawatan
Peningkatan suhu tubuh bd proses infeksi
Tujuan :
• Suhu tubuh normal berkisar antara 36 – 37, 5 ‘ C
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b. d anoreks
Tujuan:
• Klien dapat mencapai BB yang direncanakan mengarah kepada BB normal.
• Klien dapat mentoleransi diet yang dianjurkan.
• Tidak menunujukan tanda malnutrisi.
Nyeri akut b.d inflamasi pada membran mukosa faring dan tonsil.
Tujuan :
• Nyeri berkurang / terkontrol
Resiko tinggi penularan infeksi b.d tidak kuatnya pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun)
Tujuan:
• Tidak terjadi penularan
• Tidak terjadi komplikasi
9. Intervensi
a. NIC :
• Observasi tanda – tanda vital
• Anjurkan pada klien/keluarga umtuk melakukan kompres dingin ( air biasa) pada
kepala /axial
• Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan yang dapat menyerap
keringat seperti terbuat dari katun.
• Atur sirkulasi udara.
• Anjurkan klien untuk minum banyak ± 2000 – 2500 ml/hr.
• Anjurkan klien istirahat ditempat tidur selama fase febris penyakit
• Kolaborasi dengan dokter :
 Dalm pemberian therapy, obat antimicrobial
 antipiretik
Rasionalisasi
• Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan perkembangan perawatan
selanjutnya.
• Dengan menberikan kompres maka aakan terjadi proses konduksi / perpindahan
panas dengan bahan perantara .
• Proses hilangnya panas akan terhalangi untuk pakaian yang tebal dan tidak akan
menyerap keringat.
• Penyedian udara bersih.
• Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh meningkat.
• Tirah baring untuk mengurangi metabolism dan panas
• Untuk mengontrol infeksi pernapasan
• Menurunkan panas
b. NIC :
• Kaji kebiasaan diet, input-output dan timbang BB setiap hari
• Berikan makan pporsi kecil tapi sering dan dalam keadaan hangat
• Beriakan oral sering, buang secret berikan wadah husus untuk sekali pakai dan tisu
• dan ciptakan lingkungan beersih dan menyenamgkan.
• Tingkatkan tirai baring.
• Konsul ahli gizi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan klien

Rasionali
• Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori menyusun tujuan berat badan, dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi.
• Untuk menjamin nutrisi adekuat/ meningkatkan kalori total
• Nafsu makan dapt dirangsang pada situasi rilek, bersih dan menyenangkan.
• Untuk mengurangi kebutuhahan metabolic
• Metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi atau kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal.
c. NIC :
• Teliti keluhan nyeri ,catat intensitasnya (dengan skala 0 – 10), factor memperburuk atau meredakan lokasimya, lamanya, dan karakteristiknya.
• Anjurkan klien untuk menghindari allergen / iritan terhadap debu, bahan kimia, asap,rokok.Dan mengistirahatkan/meminimalkan berbicara bila suara serak.
• Anjurkan untuk melakukan kumur air garam hangat
Rasional
• Identifikasi karakteristik nyeri & factor yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi yang cocok & untuk mengevaluasi ke efektifan dari terapi yang diberikan.
• Mengurangi bertambah beratnya penyakit
• Peningkatan sirkulasi pada daerah tenggorokan serta mengurangi nyeri tenggorokan.
• Kortikosteroid digunakan untuk mencegah reaksi alergi / menghambat pengeluaran
histamine dalam inflamadi pernapasan.
• Analgesic untuk mengurangi rasa nyeri
d. NIC :
• Batasi pengunjung sesuai indikasi
• Jaga keseimbangan antara istirahat dan aktifitas
• Tutup mulut dan hidung jika hendak bersin, jika ditutup dengan tisu buang segera
ketempat sampah
• Tingkatkan daya tahan tubuh, terutama anak usia dibawah 2 tahun, lansia dan penderita penyakit kronis. Dan konsumsi vitamin C, A dan mineral seng atau anti oksidan jika kondisi tubuh menurun / asupan makanan berkurang
• Kolaborasi Pemberian obat sesuai hasil kultur

Rasional
• Menurunkan potensial terpalan pada penyakit infeksius.
• Menurunkan konsumsi /kebutuhan keseimbangan O2 dan memperbaiki pertahanan
• Klien terhadap infeksi, meningkatkan penyembuhan.
• Mencegah penyebaran pathogen melalui cairan
• Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi
• Dapat diberikan untuk organiasme khusus yang teridentifikasi dengan kultur dan sensitifitas /atau di berikan secara profilatik karena resiko tinggi
10. Implementasi
 Peningkatan suhu tubuh b.d proses infeksi
• Mengukur tanda tanda vital
• Mengompres kepala atau aksila dingan mengunakan air dingin
• Memerikan penjelasan kepada klien tentang manfaat mengunakan pakaian berbahan tipis
• Memberikan obat penurun panas sesuai dengan dosis dan tepat waktu
 Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia
• Membantu jenis dan makanan yang dimakan klien
• Membuat catatan makanan harian
• Monitor lingkungan selama klien makan.
• Monitor intake nutrisi
 Nyeri akut b.d inflamasi pada membrane mukosa faring dan tonsil
• Tingkatkan istirahat
• Berikan informasi tentang nyeri kepada keluarga anak ,seperti penyebab nyeri berapa lama nyeri akan berkurang dan antisipasi ketidak nyamanan dari prosedur
• Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesic pertama kali.
 Resiko tinggi penularan infeksi b.d tidak kuatnya pertahanan sekunder
• Membatasi pengunjung
• Mempertahankan teknik isolasi
• Memperbanyak istirahat

11. Evaluasi
Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001).Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan myocarditis (Doenges, 1999) adalah :
• Suhu tubuh pasien dalam rentang normal antara 36 -37,5 C
• Klien dapat mencapai BB yang direncanakan mengarah kepada BB normal.
• Nyeri hilang atau terkontrol
• Tidak terjadi komplikasi pada klien

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Seperti yang diuraikan diatas bahwa ISPA mempunyai variasi klinis yang bermacam-macam, maka timbul persoalan pada pengenalan (diagnostik) dan pengelolaannya. Sampai saat ini belum ada obat yang khusus antivirus. Idealnya pengobatan bagi ISPA bakterial adalah pengobatan secara rasional. Pengobatan yang rasional adalah apabila pasien mendapatkan antimikroba yang tepat sesuai dengan kuma penyebab. Untuk dapat melakukan hal ini , kuman penyebab ISPA dideteksi terlebih dahulu dengan mengambil material pemeriksaan yang tepat, kemudian dilakukan pemeriksaan mikrobiologik , baru setelah itu diberikan antimikroba yang sesuai.

Saran
• Semoga makalah sederhana ini dapat menjadi ilmu yang bermanfaat bagi pembaca
• makalah ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pembaca terutama perawat dalam membuat asuhan keperawatan

5 TUGAS KESEHATAN KELUARGA

5 TUGAS KESEHATAN KELUARGA

Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai peran dan tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan yang meliputi:
A . Mengenal masalah kesehatan
Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak berarti dan karena kesehatanlah seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis. Orang tua perlu mengenal keadaan sehat dan perubahan-perubahan yang dialami anggota keluarganya. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung akan menjadi perhatian dari orang tua atau pengambil keputusan dalam keluarga (Suprajitno, 2004). Mengenal menurut Notoadmojo (2003) diartikan sebagai pengingat sesuatu yang sudah dipelajari atau diketahui sebelumnya. Sesuatu tersebut adalah sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Dalam mengenal masalah kesehatan keluarga haruslah mampu mengetahui tentang sakit yang dialami pasien.
B . Memutuskan tindakan yang tepat bagi keluarga
Peran ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai keputusan untuk memutuskan tindakan yang tepat (Suprajitno, 2004). Friedman, 1998 menyatakan kontak keluarga dengan sistem akan melibatkan lembaga kesehatan profesional ataupun praktisi lokal (Dukun) dan sangat bergantung pada:
1) Apakah masalah dirasakan oleh keluarga ?
2) Apakah kepala keluarga merasa menyerah terhadap masalah yang dihadapi salah satu anggota keluarga ?
3) Apakah kepala keluarga takut akibat dari terapi yang dilakukan terhadap salah satu anggota keluarganya ?
4) Apakah kepala keluarga percaya terhadap petugas kesehatan?
5) Apakah keluarga mempunyai kemampuan untuk menjangkau fasilitas kesehatan?
C . Memberikan perawatan terhadap keluarga yang sakit
Beberapa keluarga akan membebaskan orang yang sakit dari peran atau tangung jawabnya secara penuh, Pemberian perawatan secara fisik merupakan beban paling berat yang dirasakan keluarga (Friedman, 1998). Suprajitno (2004) menyatakan bahwa keluarga memiliki keterbatasan dalam mengatasi masalah perawatan keluarga. Dirumah keluarga memiliki kemampuan dalam melakukan pertolongan pertama. Untuk mengetahui dapat dikaji yaitu :
1) Apakah keluarga aktif dalam ikut merawat pasien?
2) Bagaimana keluarga mencari pertolongan dan mengerti tentang perawatan yang diperlukan pasien ?
3) Bagaimana sikap keluarga terhadap pasien? (Aktif mencari informasi tentang perawatan terhadap pasien)
D . Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga
1) Pengetahuan keluarga tentang sumber yang dimiliki disekitar lingkungan rumah
2) Pengetahuan tentang pentingnya sanitasi lingkungan dan manfaatnya.
3) Kebersamaan dalam meningkatkan dan memelihara lingkungan rumah yang menunjang kesehatan.
E . Menggunakan pelayanan kesehatan
Menurut Effendy (1998), pada keluarga tertentu bila ada anggota keluarga yang sakit jarang dibawa ke puskesmas tapi ke mantri atau dukun. Untuk mengetahui kemampuan keluarga dalam memanfaatkan sarana kesehatan perlu dikaji tentang :
1) Pengetahuan keluarga tentang fasilitas kesehatan yang dapat dijangkau keluarga
2) Keuntungan dari adanya fasilitas kesehatan
3) Kepercayaan keluarga terhadap fasilitas kesehatan yang ada
4) Apakah fasilitas kesehatan dapat terjangkau oleh keluarga.
Tenaga kesehatan dapat menjadi hambatan dalam usaha keluarga dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada. Hambatan yang dapat muncul terutama kamunikasi (Bahasa) yang kurang dimengerti oleh petugas kesehatan. Pengalaman yang kurang menyenangkan dari keluarga ketika berhadapan dengan petugas kesehatan ketika berhadapan dengan petugas kesehatan.